Rabu, 21 Juni 2017

World War Z: Bab V: Amerika di Tengah Perang (part 3)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Wenatchee, Washington

(Senyuman Joe Muhammad sama lebarnya seperti bahunya. Pekerjaannya sehari-hari adalah mengelola bengkel perbaikan sepeda, tetapi waktu luangnya diisi dengan membuat karya seni menakjubkan dari logam leleh. Dia terkenal dengan patung perunggu Neighborhood Security Memorial buatannya di pusat perbelanjaan di Washington D.C. Patung itu menggambarkan dua penduduk kota yang berdampingan, dan salah satunya duduk di kursi roda).

Si orang yang menerima lamaranku sangat gugup. Dia mencoba membujukku. Apakah kau sudah bicara dengan perwakilan NRA? Apakah kau paham tentang pekerjaan sipil di tengah masa perang seperti sekarang? Mulanya aku tidak mengerti maksudnya. Aku sudah punya pekerjaan di pabrik daur ulang. Bukankah itu inti dari Tim Keamanan Lingkungan (NST)? Pekerjaan paruh waktu sukarela yang kau lakukan saat sedang tidak bekerja? Aku mencoba menjelaskan hal ini padanya, siapa tahu ada yang kulewatkan. Ketika dia melayangkan alasan-alasan setengah hati, kulihat matanya melirik cepat ke kursi rodaku.

(Joe adalah penyandang disabilitas).

Kau percaya itu? Kita sedang berhadapan dengan kepunahan massal umat manusia, dan dia masih mencoba sok sopan? Aku tertawa tepat di depan wajahnya. Dia pikir aku datang begitu saja tanpa memahami apa yang diharapkan dariku? Apakah si brengsek itu tidak baca protokol keamanannya? Aku sudah membacanya. Pekerjaan tim NST adalah patroli keliling komplek, menyusuri setiap sisi jalan, dan berhenti untuk memeriksa setiap rumah, Jika seseorang harus masuk karena suatu alasan, dua orang lainnya harus menunggu.

(Dia menunjuk dirinya sendiri)

Ha-lo! Memangnya dia pikir kami mau apa? Kami 'kan tidak perlu melompati pagar dan berlari melintasi halaman belakang rumah orang. Justru zombie yang mendatangi kami. Oke, lantas bagaimana kalau ada lebih banyak zombie yang bisa kami tangani? Kalau aku tidak bisa mendorong kursiku lebih cepat dari zombie yang berjalan, memangnya dia pikir aku masih hidup sampai sekarang? Aku menyampaikan alasanku dengan tenang dan tepat sasaran, dan aku bahkan menantangnya untuk memberi skenario di mana kecacatanku akan menghalangi tugasku.

Dia tidak bisa menjawab. Dia bergumam harus mengecek dulu dengan atasannya, dan aku sebaiknya kembali besok paginya. Aku menolak. Aku bilang padanya dia boleh saja mengecek dengan semua orang mulai dari si atasan sampai si Beruang* sendiri, tetapi aku tidak akan beranjak sampai aku mendapat rompi jinggaku. Aku sampai berteriak, supaya semua orang di ruangan itu dengar. Semua mata memandang ke arahku, lantas ke arahnya. Berhasil. Aku mendapat rompi jinggaku lebih cepat dari semua orang yang datang hari itu.

Seperti kataku, Tim Keamanan Lingkungan berarti patroli keliling komplek pemukiman. Bisa dibilang itu organisasi semi-militer; kami harus belajar di kelas dan ikut macam-macam latihan. Ada pemimpin serta jalur organisasi yang sudah ditentukan, tetapi kami tidak perlu menghormat sambil bilang "Siap, pak!" atau semua sampah itu. Senjata juga tidak ditentukan secara kaku. Kebanyakan senjata untuk pertarungan jarak dekat: parang, pemukul kasti, linggis. Minimal tiga orang di dalam setiap tim harus punya pistol. Aku membawa AMT Lightning, karabin semi-otomatis kecil berkaliber .22. Senjata itu tidak "menendang balik", jadi aku tidak perlu mengunci kursi rodaku dulu sebelum menembak. Senjata yang bagus.

Anggota tim bisa berganti-ganti, tergantung jadwal. Dulu situasinya lumayan kacau, dan tim DeStRes mengatur semuanya. Giliran jaga malam yang paling sulit. Kau lupa betapa gelapnya jalanan ketika semua lampu mati. Di tiap rumah juga hampir tidak ada penerangan. Semua orang tidur cepat ketika malam tiba. Paling-paling beberapa orang menyalakan lilin, dan lampu hanya ada kalau orang itu punya lisensi untuk generator, misalnya jika dia memiliki pekerjaan penting yang harus dilakukan di rumah. Cahaya bulan dan bintang juga sudah tidak ada; terlalu banyak polusi di langit. Kami membawa senter keluaran standar untuk sipil. Dulu baterai masih ada banyak, dan kami menutup ujung senter dengan selotip merah untuk melindungi penglihatan malam.

Kami mendatangi setiap rumah, mengetuk, bertanya apakah semuanya baik-baik saja. Beberapa bulan pertama cukup menegangkan, karena itu masih masa-masa program penempatan awal. Ada banyak sekali orang yang datang dari kamp pengungsian, sehingga setiap minggu selalu ada selusin tetangga atau bahkan rekan serumah baru. Aku tidak pernah menyadari betapa enaknya hidupku sebelum perang, di rumah besarku di pinggiran kota. Kupikir-pikir, apa aku benar-benar butuh rumah seluas tiga ribu kaki persegi dengan tiga kamar tidur, dua kamar mandi, dapur, ruang tengah, ruang santai, dan kantor? Aku tinggal sendirian selama bertahun-tahun, dan tiba-tiba, aku dapat keluarga baru dari Alabama. Mereka berenam muncul begitu saja di pintuku pada suatu pagi, membawa surat dari Departemen Pemukiman. Mulanya itu membuatku risih, tetapi lama-lama aku terbiasa. Aku tidak keberatan tinggal bersama keluarga Shannon. Kami jadi lumayan akrab, dan aku bisa tidur lebih nyenyak karena ada yang berjaga-jaga.

Itu salah satu peraturan baru; di dalam setiap rumah, harus ada yang berjaga di malam hari. Anggota tim kami harus mendata masing-masing orang di tiap rumah, untuk memastikan mereka bukan penyusup atau pencuri. Kami mengecek kartu identitas, memeriksa setiap wajah, bertanya jika segala sesuatunya di sekitar mereka aman. Mereka biasanya bilang semua baik-baik saja, atau melaporkan suara berisik yang harus kami periksa. Pada tahun kedua, ketika arus pengungsi berkurang dan semua orang sudah saling mengenal, kami tidak pernah lagi repot-repot dengan daftar dan kartu identitas. Semuanya terasa lebih tenang. Dibandingkan tahun pertama ketika kepolisian masih dibangun kembali dan zona aman belum ditetapkan....

(Diam untuk efek dramatis)

Saat itu masih banyak rumah kosong, entah ditembaki, dijarah, atau ditinggalkan begitu saja dengan pintu masih terbuka. Kami menaruh pita garis polisi di setiap pintu dan jendela. Jika ada yang terputus, berarti kemungkinan ada zombie di rumah itu. Kami sering mengalaminya. Aku selalu menunggu di depan pintu dengan senapan di tangan. Terkadang ada teriakan, atau suara tembakan. Kadang hanya ada suara erangan dan sesuatu yang diseret, dan beberapa saat kemudian, rekanku keluar dengan senjata tajam yang masih berlumuran darah serta kepala zombie di tangannya.

Aku juga beberapa kali membunuh zombie sendiri. Kadang, ketika rekan-rekanku sedang di dalam rumah, dan aku mengawasi jalan, aku mendengar suara gesekan, napas terengah-engah, atau sesuatu yang menyeret dirinya melewati semak-semak. Aku akan menyenter ke arahnya, memanggil bantuan, lantas menembak. Aku pernah hampir celaka. Kami sedang memeriksa rumah bertingkat ini: empat kamar tidur, empat kamar mandi, dan bagian depannya hampir ambruk karena ada orang yang menerobos ruang tamu dengan mobil Jeep Liberty. Rekan perempuanku ingin buang air, jadi aku menunggu sementara dia pergi ke semak-semak. Aku membuat kesalahan. Aku terlalu fokus pada keadaan di dalam rumah itu. Mendadak ada yang menarik kursi rodaku. Aku mencoba berputar, tetapi ada yang menahan roda kanannya.

Aku memutar badan dan menyorotkan senterku. Ternyata itu dragger, jenis zombie yang kehilangan kedua kakinya. Makhluk itu menggeram dan mencoba memanjat roda. Tetapi kursiku menyelamatkanku, memberiku satu setengah detik yang kubutuhkan untuk meraih senjataku. Seandainya aku berdiri, makhluk itu mungkin sudah mencengkeram kakiku, atau menggigitku. Itu terakhir kalinya aku bertindak ceroboh saat bekerja.

Zombie bukan satu-satunya hal yang harus kuhadapi. Ada penjarah juga, walau mereka sebenarnya bukan penjahat, hanya orang-orang yang perlu bertahan hidup. Sama juga dengan penyusup gelandangan. Berurusan dengan mereka biasanya oke. Kami hanya mengundang mereka masuk, memberi apapun yang mereka butuhkan, sampai petugas yang mengurus pembagian rumah mengambil alih. Tapi ada juga penjarah sungguhan, kelompok penjahat profesional. Itu satu-satunya saat aku terluka sungguhan.

(Joe menurunkan kemejanya, memperlihatkan luka berbentuk bundar seukuran uang koin sepuluh sen.)

Peluru sembilan milimeter, tepat di bahuku. Timku mengejar orang itu sampai ke luar rumah. Aku berteriak menyuruhnya berhenti, dia menolak. Itu satu-satunya saat aku dengan sengaja membunuh manusia lain, untung saja. Ketika hukum yang baru akhirnya ditetapkan, kejahatan-kejahatan seperti itu akhirnya berhenti.

Ada anak-anak liar, para gelandangan kecil yang kehilangan orang tua mereka. Kami menemukan mereka di mana-mana: di ruang bawah tanah, lemari, di bawah tempat tidur. Banyak yang sudah berjalan jauh dari area timur. Keadaan mereka semua parah, kurang gizi dan penyakitan. Beberapa melarikan diri dari kami. Kau tahu, itulah satu-satunya saat aku menyesal karena tidak bisa berlari untuk mengejar mereka. Orang lain yang harus melakukannya. Kadang kami berhasil menangkap mereka, kadang tidak.

Masalah terbesar adalah para quisling.

Quisling?

Ya, kau tahu, manusia-manusia hidup yang jadi gila dan akhirnya bertingkah seperti zombie.

Bisa dijelaskan lagi?

Tapi aku bukan psikiater, jadi aku tidak tahu istilah-istilah teknisnya.

Tidak masalah.

Oke, jadi menurutku, ada tipe orang yang tidak sanggup berurusan dengan situasi lawan-atau-mati. Mereka jadi tertarik pada orang yang membuat mereka takut. Bukannya menghindar, mereka malah berusaha menyenangkan orang itu, bergabung dengannya, atau menjadi seperti dirinya. Kupikir itu yang sering terjadi dalam situasi penculikan, kau tahu, seperti Patty Hearst** dan Sindrom Stockholm***, atau dalam perang ketika orang-orang yang diinvasi menyerah pada pasukan penjajah. Kolaborator, mereka itu, dan seringkali malah lebih sadis daripada orang-orang yang mereka coba tiru. Seperti para fasis Prancis itu yang menjadi tentara terakhir Hitler. Mungkin itu sebabnya kami menyebut mereka quisling*****, seperti bahasa Prancis itu, tapi entah apa.

Masalahnya, kau tidak bisa melakukan itu dalam perang ini. Kau tidak bisa mengangkat tangan begitu saja dan bilang "Jangan bunuh aku, aku di pihakmu". Tidak ada wilayah abu-abu atau kompromi dalam perang melawan zombie, jadi orang-orang ini mungkin tidak bisa menerimanya. Akhirnya mereka jadi gila. Mereka mulai bergerak seperti zombie, bersuara seperti mereka, bahkan menyerang dan mencoba memakan orang lain. Begitulah keadaan orang pertama yang kami temukan. Dia pria usia tiga puluhan. Kotor, kebingungan, berjalan tersaruk-saruk di trotoar. Kami pikir dia cuma shock, sampai dia menggigit lengan salah satu rekanku.

Itu beberapa detik yang sangat menakutkan. Aku menembak kepala pria itu, lalu mendekati rekanku. Dia meringkuk di trotoar, mengumpat, menangis, menatap bekas gigitan di lengannya. Digigit zombie sama saja dengan hukuman mati, dan dia tahu itu. Dia sudah siap bunuh diri, sampai kami melihat darah merah keluar dari kepala orang yang kutembak. Ketika kami mengeceknya, tubuhnya ternyata hangat! Kau harus lihat reaksi rekanku. Tidak setiap hari kita dapat keringanan dari bos besar di atas sana. Ironisnya, rekanku toh tetap hampir mati gara-gara luka itu. Mulut orang yang menggigitnya dipenuhi bakteri, menyebabkan infeksi yang nyaris mematikan.

Kami pikir itu sesuatu yang baru, tapi kondisi tersebut ternyata sudah berlangsung beberapa lama. CDC sudah akan mengumumkannya ke publik, bahkan mengirim tenaga ahli dari Oakland untuk melatih kami seandainya menemukan mereka. Kami benar-benar tercengang mendengarnya. Apakah kau tahu kalau quisling adalah penyebab sebagian orang mengira mereka kebal gigitan zombie? Itu juga alasan mengapa ada semua omong kosong tentang obat ajaib. Coba pikir: ada orang minum Phalanx, digigit, lalu selamat. Memangnya apa lagi yang akan dipikirkannya? Orang itu bahkan mungkin tidak tahu ada makhluk seperti quisling, yang sama ganasnya dengan zombie dan bahkan bisa lebih berbahaya.

Kenapa begitu?

Yah, satu hal: mereka tidak membeku. Oke, mungkin bisa saja kalau dalam waktu lama, tetapi jika dinginnya tidak begitu parah, dan mereka memakai baju yang hangat, mereka akan baik-baik saja. Mereka juga bertambah kuat dari orang-orang yang mereka makan, tidak seperti zombie. Mereka bisa bertahan hidup cukup lama.

Tapi kau bisa membunuh mereka dengan lebih mudah, 'kan?

Ya dan tidak. Kau tidak perlu menembak mereka di kepala, cukup di paru-paru, jantung, atau di mana saja sebenarnya, dan mereka akan mati kehabisan darah. Tetapi jika kau tidak bisa menghentikan mereka hanya dengan satu tembakan, mereka akan terus menyerang sampai mati.

Jadi mereka tidak merasakan sakit?

Ya ampun, tidak. Itu seperti teori pikiran-melampaui-segalanya. Karena terlalu fokus, otakmu jadi lupa segalanya, kurang lebih begitu. Lebih baik kau tanya ahlinya.

Tidak, silakan teruskan.

Oke, nah, jadi itulah sebabnya kami tidak bisa bicara dengan mereka. Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Mereka bukan zombie, tidak secara fisik, tetapi secara mental sama saja. Tapi secara fisik mereka kadang juga tidak berbeda, terutama jika tubuh mereka sangat kotor, berdarah-darah, atau penyakitan. Zombie biasanya tidak sebau itu, setidaknya kalau sendiri-sendiri dan tubuh mereka masih cukup segar. Bagaimana kau bisa membedakan zombie dengan para peniru yang tubuhnya penuh bengkak? Kau tidak bisa. Apalagi militer tidak memberi kami anjing pelacak atau apalah. Kami harus mengandalkan mata.

Mayat hidup tidak berkedip. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena mereka menggunakan semua indra secara setara, jadi otak mereka tidak begitu mengandalkan penglihatan. Mungkin karena mereka tidak lagi punya cairan tubuh yang cukup untuk membasahi mata. Entahlah. Pokoknya, mereka tidak berkedip, tapi quisling sebaliknya. Begitulah caranya membedakan mereka: kau mundur sedikit, tunggu beberapa detik. Kalau suasananya gelap, semuanya mudah. Sorotkan saja senter ke muka mereka. Jika mata mereka tidak berkedip, tembak.

Kalau mereka berkedip?

Perintah kami adalah menangkap quisling hidup-hidup jika memungkinkan, dan hanya gunakan taktik mematikan jika terdesak. Kedengarannya gila, tapi kami toh berhasil menangkap beberapa, mengikat mereka, lalu menyerahkannya ke polisi atau Garda Nasional. Aku tidak tahu apa yang orang-orang itu lakukan dengan mereka. Aku pernah dengar cerita tentang suatu tempat di Walla-Walla, Washington, semacam penjara di mana para quisling diberi makanan, pakaian, dan perawatan medis. (Joe memutar bola matanya.)

Kau sepertinya tidak setuju.

Hei, aku tidak pernah ke sana. Kalau kau mau tahu, baca koran saja. Setiap tahun, semua orang mulai dari pengacara sampai pendeta dan politisi berlomba melontarkan opini panas untuk menguntungkan sisi mereka sendiri. Secara pribadi, aku tidak peduli. Aku tidak punya sentimen apa-apa terhadap para quisling. Kupikir hal paling menyedihkan dari mereka adalah kenyataan bahwa mereka telah menyerahkan banyak hal, dan tetap kalah pada akhirnya.

Kenapa begitu?

Karena walaupun kita tidak bisa membedakan mereka dari zombie, zombie malah bisa melakukannya. Kau ingat masa-masa awal perang zombie? Tentang strategi yang dilakukan untuk membuat zombie menyerang sesama mereka? Waktu itu, ada "bukti-bukti nyata" tentang pertarungan antar zombie. Ada saksi mata dan bahkan bukti video tentang zombie yang menyerang sesamanya. Bodoh. Itu semua zombie yang menyerang quisling, tapi kau tidak akan tahu kalau hanya melihatnya. Quisling tidak menjerit. Mereka hanya berbaring di tanah, bahkan tidak mencoba melawan. Mereka hanya menggeliat-geliut perlahan seperti robot sementara dimakan hidup-hidup oleh makhluk-makhluk yang mereka coba tirukan.



*Beruang (The Bear): nama julukan untuk komandan program NST, diambil dari Perang Teluk I.

**Patty Hearst: cucu perempuan pemilik penerbitan di Amerika Serikat, William Randolph Hearst. Patty diculik dan disandera oleh kelompok teroris sayap kiri di Berkeley pada tahun 1974, tetapi setelah disekap beberapa lama, justru berbalik menjadi pendukung setia kelompok tersebut.

***Sindrom Stockholm: kondisi psikologis di mana orang yang disandera atau diculik berbalik mendukung bahkan mencintai penangkap/penculiknya, sebagai strategi pertahahan diri. Istilah diambil dari peristiwa perampokan bank dan penyanderaan di Stockholm pada tahun 1973, di mana empat pegawai yang disandera justru menolak bersaksi melawan si penyandera, dan bahkan membantu mengumpulkan dana untuknya.

****Vidkun Abraham Lauritz Johnson Quisling dijadikan presiden boneka di Norwegia oleh Nazi pada era Perang Dunia Kedua.