Senin, 31 Oktober 2016

World War Z: Bab IV: Membalik Keadaan (part 4)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Cagar Alam Provinsi Sand Lakes, Manitoba, Kanada

(Jesika Hendricks menunjuk ke hamparan sampah sub-artik. Keindahan alami tempat itu telah tergantikan oleh gundukan sampah: mobil-mobil yang diabaikan, serpihan, serta mayat-mayat manusia yang setengah beku di antara salju putih dan kelabu. Jesika, yang datang dari Waukesha, Wisconsin walau aslinya orang Kanada, adalah anggota Proyek Restorasi Alam Liar. Bersama beberapa ratus orang sukarelawan, Jesika datang ke tempat ini setiap musim panas sejak ancaman zombie secara resmi dinyatakan berakhir. Walaupun para anggota proyek mengklaim telah mencapai kemajuan pesat, tak ada yang tahu kapan proyek itu akan berakhir.)

Aku tidak menyalahkan pemerintah, atau orang-orang yang seharusnya melindungi kami. Secara obyektif, harusnya aku tidak berpikir begitu. Mereka tidak mungkin menyuruh semua orang membuntuti para tentara pergi ke barat hingga ke balik Pegunungan Rocky. Bagaimana caranya mereka memberi makan dan memeriksa kami, serta menghentikan pasukan mayat hidup yang terus membuntuti kami? Aku paham mengapa mereka ingin mengarahkan sebanyak mungkin pengungsi ke utara. Maksudnya, bagaimana lagi mereka akan menangani kami? Menghalangi kami dengan pasukan bersenjata, atau menyerang kami dengan gas seperti di Ukraina? Setidaknya, di utara, kami masih punya kesempatan. Ketika suhu menurun drastis dan para zombie membeku, kami mungkin bisa bertahan hidup. Itu terjadi di seluruh dunia, orang-orang lari ke utara dan berharap tetap hidup sampai musim dingin tiba.

Tidak, aku tidak menyalahkan mereka karena mencoba mengalihkan kami. Aku bisa memaafkan itu. Tapi cara mereka yang tidak bertanggungjawab, kurangnya informasi penting yang mungkin bisa membantu lebih banyak orang agar tetap hidup...itu yang aku tak bisa maafkan.

Saat itu Agustus, dua minggu setelah Perang Yonkers dan tiga hari setelah pasukan militer kami mulai mundur ke barat. Di dekat rumahku tidak banyak kejadian. Aku cuma pernah lihat satu: enam zombie yang mengeroyok dan memakan seorang gelandangan. Polisi dengan cepat mengurus mereka. Kejadiannya hanya tiga blok dari rumah kami, dan saat itulah ayahku memutuskan untuk membawa kami pergi.

Kami di ruang tamu. Ayahku sedang belajar mengisi senapan barunya, dan ibuku memaku papan-papan ke jendela. Tidak ada saluran TV yang tidak menayangkan apapun tentang zombie, entah itu liputan langsung atau siaran rekaman dari Yonkers. Sampai sekarang, aku masih tak percaya betapa tidak profesionalnya media saat itu. Begitu banyak fakta yang diputarbalikkan. Semua kutipan dan komentar para "ahli" itu saling simpang-siur, masing-masing ingin jadi yang paling "mengejutkan" atau "mendalam" dibanding yang lainnya. Satu hal yang mereka semua sepertinya setujui adalah para penduduk sipil harus "pergi ke utara." Karena para zombie itu bisa membeku, cuaca dingin adalah harapan kami. Itu saja yang kami dengar. Tak ada informasi soal ke mana tepatnya kami harus pergi, apa yang harus dibawa, bagaimana cara bertahan hidup. Hanya satu slogan sialan itu saja yang kami dengar: "Ke utara. Ke utara. Ke utara."

"Baiklah," ujar ayahku. "Kita keluar dari sini malam ini, dan pergi ke utara." Dia mencoba kedengaran bertekad sembari menepuk senapannya. Dia tidak pernah sekalipun menyentuh senjata api selama hidupnya. Dia pria yang lembut. Pendek, botak, dengan wajah bundar yang akan memerah kalau tertawa, dia jagonya melontarkan lawakan-lawakan tak lucu dan pelesetan. Dia selalu punya hadiah kecil untukmu; pujian, senyuman, atau sedikit tambahan uang jajan yang tidak diberikan ibuku. Dia adalah si polisi baik kalau di rumah, semua keputusan besar diserahkan pada ibuku.

Ibu mencoba mendebatnya, mengajukan berbagai alasan. Kita tinggal di atas permukaan salju tertinggi, dan punya semua yang dibutuhkan. Mengapa kita harus pergi ke daerah tak dikenal sementara kita bisa menumpuk persediaan, memperkuat rumah, dan menunggu salju pertama turun? Ayahku tak mau dengar. "Kita bisa mati saat musim gugur tiba, atau bahkan minggu depan!" Dia begitu terpengaruh oleh Kepanikan Besar.

Dia bilang pada kami itu akan seperti perjalanan berkemah yang lama. Kami akan pesta burger rusa dan buah beri liar untuk pencuci mulut. Dia janji mengajariku memancing, dan bertanya nama apa yang akan kuberikan pada kelinci peliharaanku kalau kami nanti berhasil menangkapnya. Ayahku tinggal di Waukesha seumur hidupnya. Dia tidak pernah berkemah.

(Jesika menunjukkan padaku sesuatu yang setengah terkubur salju; keping-keping DVD yang sudah remuk.)

Inilah yang orang-orang bawa dari rumah mereka: pengering rambut, game, lusinan laptop. Aku tak mengira mereka akan sebodoh itu dan berpikir bisa menggunakan semuanya di sini. Yah, mungkin beberapa. Kupikir orang-orang ini cuma takut akan kehilangan benda-benda itu; mereka pikir mereka akan pulang enam bulan kemudian dan menemukan rumah mereka dijarah. Keluargaku berkemas dengan lebih masuk akal. Pakaian hangat, alat memasak, seisi lemari obat, dan semua makanan kaleng yang bisa kami bawa. Kelihatannya malah cukup untuk bertahun-tahun. Tapi kami menghabiskan separuhnya sepanjang perjalanan. Itu tidak menggangguku. Kami toh akan berpetualang di alam liar.

Kau tahu semua cerita tentang jalanan macet dan aksi kekerasan itu? Itu tidak terjadi pada kami. Kami adalah rombongan pertama. Kebanyakan orang yang mendahlui kami adalah orang Kanada, dan mereka sudah lama pergi. Lalu-lintas memang masih agak macet, dan ada lebih banyak mobil dari yang biasa kulihat, tapi semuanya bergerak cukup cepat. Kemacetan hanya terjadi di sekitar kota-kota kecil dan taman.

Taman?

Taman, fasilitas perkemahan, pokoknya di mana saja orang pikir mereka sudah cukup jauh. Ayahku biasa meremehkan orang-orang itu, menyebut mereka picik dan tak masuk akal. Dia bilang mereka masih terlalu dekat dengan pusat pemukiman, dan satu-satunya cara bertahan adalah dengan pergi sejauh mungkin ke utara. Ibuku selalu bilang kalau itu bukan salah mereka; mungkin mereka cuma kehabisan bensin. "Dan salah siapa itu?" Balas ayahku.

Kami punya banyak persediaan bensin dalam jerigen-jerigen yang diikat di atap mobil. Ayah sudah menumpuk banyak bensin sejak hari pertama Kepanikan Besar. Kami melewati banyak kemacetan dan antrian di pom bensin, semuanya memasang tanda besar "BENSIN HABIS." Ayahku ngebut melewati mereka. Dia selalu ngebut ketika melewati banyak hal: mobil yang mogok di pinggir jalan, atau orang-orang yang ingin menumpang. Banyak di antara mereka berjalan dalam barisan, terlihat seperti layaknya pengungsi. Terkadang ada satu atau dua mobil yang berhenti untuk mengangkut beberapa orang, dan mendadak semuanya juga ingin ikut menumpang. "Lihat, itulah akibatnya." Ayahku selalu bilang begitu.

Kami sempat mengangkut seorang wanita. Dia berjalan sendirian dan menyeret koper bepergian beroda. Dia kelihatannya tak berbahaya, sendirian dan kehujanan. Mungkin itu sebabnya ibuku menyuruh ayah mengangkutnya. Namanya Patty, dia dari Winnipeg. Dia tidak bilang bagaimana dia sampai berjalan sendirian, dan kami juga tidak bertanya. Dia sangat bersyukur dan mencoba memberi semua uangnya pada orangtuaku. Ibuku menolak dan berjanji akan membawanya bersama kami. Dia menangis penuh terima kasih. Aku bangga pada orangtuaku karena melakukan hal yang benar, sampai dia bersin dan mengangkat saputangan ke hidungnya. Tangan kirinya ada di dalam sakunya sepanjang perjalanan, dan tangan itu ternyata terbalut perban dengan sesuatu mirip darah di bawahnya. Dia melihat tatapan kami, dan mendadak jadi gugup.

Dia bilang kami tak perlu khawatir; tangannya tergores secara tak sengaja. Ayah memandang ibu, dan mendadak mereka jadi diam. Mereka menolak melihatku atau mengatakan sesuatu. Malam itu, ketika terbangun, aku mendengar pintu mobil terbanting menutup. Mulanya aku tak merasa aneh; kami kadang-kadang memang berhenti untuk buang air, dan ibu selalu membangunkanku untuk bertanya apa aku mau buang air. Akan tetapi, kali itu, aku tak tahu apa yang terjadi sampai mobil kami mulai berjalan.

Aku menatap berkeliling mencari Patty, tapi dia tidak ada. Aku tanya orangtuaku apa yang terjadi, dan mereka bilang Patty meminta mereka untuk menurunkannya. Aku melihat ke belakang dan melihat sosoknya, semakin lama semakin kecil. Kupikir dia berusaha berlari menyusul kami, tapi aku sangat capek sehingga tak begitu yakin. Atau mungkin aku hanya tak mau tahu. Ada banyak hal yang aku pura-pura tak lihat sepanjang sisa perjalanan kami.

Misalnya apa?

Misalnya orang-orang yang hendak menumpang. Jumlahnya tidak banyak karena itu baru gelombang pertama. Kami biasanya melihat mereka dalam jumlah sekitar setengah lusin, berjalan di tengah jalan, memberi isyarat tangan ketika melihat mobil kami. Ayah akan mengepot melewati mereka, dan ibu menyuruhku membungkuk dan menyembunyikan wajahku. Aku membenamkan wajahku di kursi mobil dan menutup mata. Aku tak mau melihat mereka. Aku terus berpikir tentang burger rusa dan buah beri liar. Rasanya seperti menuju ke Tanah yang Dijanjikan. Kupikir ketika kami tiba di utara, semuanya akan baik-baik saja.

Mulanya semua oke. Kami mendapat tempat berkemah bagus di tepi danau. Orang-orangnya tidak begitu banyak, tapi cukup untuk membuat kami merasa "aman," siapa tahu ada mayat hidup muncul. Semuanya sangat ramah; kelompok besar orang-orang yang merasa lega dan aman. Rasanya malah agak seperti pesta. Kami sering masak bersama, dan orang-orang menyumbangkan hewan-hewan yang mereka buru atau pancing. Beberapa pria melempar dinamit ke danau, lalu ada letusan besar, dan ikan-ikan akan mengapung ke permukaan. Aku tak akan pernah melupakan suara-suara itu. Orang-orang menggunakan gergaji mesin untuk menebang pohon, suara musik dari radio mobil dan alat-alat musik yang dibawa para keluarga. Kami semua bernyanyi di sekitar api unggun setiap malam, dengan api unggun raksasa dari kayu-kayu besar.

Itu saat kami masih punya pepohonan, sebelum gelombang pengungsi kedua dan ketiga mulai muncul, sebelum orang-orang mulai membakar dedaunan dan sisa-sisa kayu, dan akhirnya apa saja yang bisa mereka bakar. Bau plastik dan karet terbakar sangat buruk, seolah menempel di mulut dan rambutmu. Pada saat itu, ikan-ikan sudah habis, begitu juga dengan hewan-hewan buruan. Orang-orang tak khawatir. Mereka pikir musim dingin akan segera membekukan zombie.

Tapi, ketika para zombie membeku, bagaimana kalian bertahan menghadapi musim dingin?

Pertanyaan bagus. Kupikir kebanyakan orang tak berpikir sejauh itu. Mungkin mereka pikir pihak berwenang akan menjemput mereka, atau mereka bisa berkemas dan pulang. Aku yakin kebanyakan tak berpikir jauh, kecuali menghadapi hari demi hari, bersyukur mereka masih hidup dan percaya bahwa segala sesuatu akan beres sendiri. "Kita akan segera pulang," mereka berkata, "semua ini akan berakhir saat Natal."

(Dia kembali menunjuk sesuatu yang setengah terkubur di antara salju. Sebuah kantung tidur bermotif Spongebob SquarePants, kecil dan bernoda kecoklatan.)

Pikirmu ini pesta menginap di kamar tidur dengan alat pemanas? Oke, mungkin tak semua bisa membawa perlengkapan yang pantas; toko perlengkapan berkemah selalu jadi yang pertama habis dijarah. Tapi kau tak akan percaya betapa bodohnya sebagian orang-orang ini. Banyak dari mereka yang datang dari area Sabuk Matahari,* bahkan Meksiko Selatan. Kau akan melihat orang masuk ke balik kantung tidur dengan masih pakai sepatu, padahal itu akan memutus sirkulasi tubuh. Mereka minum alkohol untuk menghangatkan badan, padahal itu justru menurunkan suhu tubuh dengan melepaskan lebih banyak panas. Mereka pakai mantel tanpa apa-apa lagi di bawahnya kecuali kaos. Lalu mereka akan melakukan aktivitas fisik dan keringatan, dan kaos katun itu menahan cairan tubuh, dan kemudian angin dingin berhembus.... Banyak orang yang sakit di awal September, Flu dan pilek. Mereka menularkannya pada yang lainnya.

Mulanya semua orang masih ramah. Kami bekerjasama. Kami barter atau membeli apa yang kami butuhkan dari tetangga kami. Uang masih berharga; semua orang pikir bank akan segera buka. Setiap kali ibu dan ayah pergi mencari makanan, mereka akan menitipkanku pada tetangga. Aku punya radio survival kecil, jenis yang harus diengkol agar menyala supaya kami bisa mendengar berita setiap malam. Semua beritanya tentang penarikan tentara dan rakyat sipil yang terabaikan. Kami mendengar berita dengan peta jalan Amerika Serikat terbentang, menunjuk berbagai kota darimana berita itu disiarkan. Aku duduk di pangkuan ayahku. "Coba lihat," katanya, "mereka tak bisa keluar tepat waktu. Mereka tidak pintar seperti kita." Dia mencoba memaksakan senyum, dan kupikir saat itu dia benar.

Tetapi, setelah bulan pertama dan makanan mulai habis, dan hari-hari semakin dingin dan gelap, orang-orang mulai jadi jahat. Tak ada lagi api unggun, masak-masak atau menyanyi bersama. Perkemahan jadi kotor, tak ada lagi yang repot-repot menyimpan sampah. Sesekali aku tak sengaja menginjak tinja. Tak ada lagi yang menguburnya.

Aku tak lagi dititipkan ke tetangga, orangtuaku tak memercayai siapapun. Situasi jadi berbahaya, ada banyak perkelahian. Aku melihat dua wanita berkelahi memperebutkan sebuah mantel bulu, dan merobek bendak itu tepat di tengah-tengah. Seorang pria melihat pria lain mencoba mencuri sesuatu dari mobilnya, lalu dia memukulnya dengan batang pencungkil ban. Suara-suara perkelahian dan teriakan itu kebanyakan terdengar di malam hari. Sesekali ada suara tembakan, lalu seseorang menangis. Suatu malam, kami mendengar seseorang mengendap-endap dekat kemah darurat yang kami bentangkan di atas mobil. Ibu menyuruhku menundukkan kepala dan menutup telinga. Ayah keluar. Aku mendengar suara tembakan lewat telapak tanganku. Pistol ayahku. Seseorang menjerit. Saat ayahku kembali, wajahnya pucat, Aku tak pernah tanya apa yang terjadi.

Satu-satunya saat semua orang bersatu adalah ketika zombie muncul. Mereka mengikuti gelombang pengungsi ketiga, dan biasanya muncul dalam kawanan kecil. Itu terjadi tiap beberapa hari sekali. Setiap mereka datang, akan ada yang memberi peringatan, dan semua orang bersatu untuk mengusir mereka. Lalu, setelah semua selesai, kami saling bersitegang lagi.

Ketika cuaca akhirnya sudah cukup dingin untuk membekukan danau, ketka mayat hidup mulai tak terlihat lagi, beberapa orang berpikir bahwa sudah cukup aman untuk berjalan kembali ke rumah.

Berjalan? Tidak menyetir?

Tidak ada bensin lagi. Semua sudah habis untuk memasak atau menjalankan pemanas mobil. Setiap hari, orang-orang akan membentuk kelompok-kelompok ini...kelompok lusuh kelaparan dengan barang-barang tak berguna yang mereka bawa, wajah mereka semua nampak putus asa.

"Memangnya mereka mau ke mana?" Ayahku berkata. "Apa mereka tidak tahu kalau semakin ke selatan semakin dingin? Apa mereka tidak sadar apa yang menanti mereka di sana?" Ayahku yakin kalau kami bertahan cukup lama, cepat atau lambat semua akan baik-baik saja. Saat itu bulan Oktober, dan aku masih terlihat seperti manusia.

(Kami melihat tumpukan tulang-belulang, terlalu banyak untuk dihitung. Mereka menumpuk di dalam sebuah lubang dangkal dan setengah terkubur salju.)

Aku dulu anak gendut. Aku tak pernah olahraga, selalu ngemil. Aku hanya bertambah kurus sedikit saat kami tiba di sini bulan Agustus. Bulan November, aku sudah tinggal tulang. Orangtuaku tidak lebih baik. Perut ayah kempes, dan tulang pipi ibuku sangat menonjol. Mereka jadi sering bertengkar tentang segalanya. Mereka membuatku takut. Mereka tak pernah membentak saat di rumah. Mereka guru sekolah "progresif." Kalaupun bertengkar, paling-paling makan malam yang diam dan sedikit tegang, tapi tak pernah seperti saat itu.

Suatu hari, aku tak bisa bangun. Perutku membengkak, dan kulit sekitar mulutku mengelupas. Ada bau enak keluar dari mobil rekreasi di sebelah kami. Sepertinya mereka memasak daging; baunya benar-benar sedap. Ayah dan ibu bertengkar di luar. Ibu bilang "itu" satu-satunya cara; aku tidak tahu apa maksudnya "itu." Kata ibuku, mereka yang jahat, bukan kami. Ayahku bilang kami tak akan merosot sampai ke level mereka dan ibuku harusnya malu pada dirinya sendiri. Ibuku menjerit bahwa salah ayahkulah kami ada di sini, dan aku sekarat. Ibu bilang pria sejati harusnya tahu apa yang harus dilakukan. Ibu memanggil ayahku "lemah" dan "banci."

Ayahku membentak ibuku supaya "menutup congornya." Padahal ayahku tidak pernah sekalipun mengumpat. Lalu aku mendengar suara hantaman. Saat ibuku kembali, dia memegangi segumpal salju di mata kanannya. Ayah mengikutinya. Dia tidak berkata apa-apa, tetapi ada ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya di wajahnya, seperti orang asing. Dia menyambar radio kami, radio yang selalu ditawar orang-orang untuk ditukar...atau terancam dicuri. Dia membawanya dan kembali ke mobil rekreasi itu. Sepuluh menit kemudian, dia kembali tanpa radio itu, tetapi dia membawa ember berisi daging rebus yang panas mengepul. Rasanya enak sekali!

Ibu bilang jangan makan terlalu cepat. Dia menyuapiku dengan sendok kecil. Wajahnya terlihat sangat lega, dan dia menangis sedikit. Ekspresi ayahku masih sama. Ekspresi yang sama dengan yang akhirnya muncul di wajahku beberapa minggu kemudian, ketika ayah ibuku jatuh sakit dan aku gantian memberi makan mereka.

(Aku membungkuk untuk memeriksa tumpukan tulang. Semuanya patah dan sumsumnya dikeluarkan.)

Musim dingin benar-benar menghantam kami saat Desember tiba. Salju menimpa kami semua, tebal dan kelabu karena polusi. Perkemahan itu jadi senyap. Tak ada perkelahian atau penembakan lagi. Saat Natal tiba, kami yang tersisa mendapat banyak makanan.

(Jesika mengangkat sesuatu yang mirip tulang paha berukuran kecil; dagingnya telah dibersihkan dengan pisau.)

Katanya sebelas juta orang tewas pada musim dingin itu, dan itu baru di Amerika Utara, belum termasuk daerah-daerah lain seperti Greenland, Islandia, Skandinavia. Aku bahkan tak mau memikirkan Siberia dan para pengungsi di sana; mereka yang dari Cina Selatan, para pengungsi dari Jepang yang belum pernah sekalipun ke luar kota, dan semua orang miskin dari India. Itu adalah tahun pertama Musim Dingin Kelabu, ketika polusi di langit mulai memengaruhi cuaca. Katanya, sebagian polusi itu berasal dari abu sisa pembakaran tubuh-tubuh manusia.

(Dia menancapkan palang penanda di tepi lubang itu.)

Butuh waktu lama sampai matahari akhirnya muncul, cuaca menjadi hangat, dan salju meleleh. Saat pertengahan Juli, musim semi akhirnya tiba, dan begitu juga dengan para zombie.

(Salah satu anggota tim memanggil kami. Sesosok zombie nampak setengah terkubur, membeku karena terkubur es dari pinggang ke bawah. Kepala, lengan dan tubuh bagian atasnya masih bergerak-gerak liar. Dia melolong dan mencakar-cakar, mencoba merayap ke arah kami.)

Mengapa mereka hidup kembali setelah membeku? Sel tubuh manusia terdiri dari air, 'kan? Ketika air dalam sel membeku, air itu mengembang dan merusak dinding sel. Makanya kau tak bisa begitu saja membekukan orang yang tidak bergerak. Jadi kenapa para zombie ini selalu hidup kembali?

(Zombie itu mendadak menerjang ke arah kami; tubuh bagian bawahnya nampak hampir lepas. Jesika mengangkat senjatanya, sebuah linggis berat, dan dengan santai menghantam remuk tengkorak zombie itu.)

Baca bagian selanjutnya di sini.


*Sun Belt area: istilah untuk area di Amerika Serikat bagian selatan dan tenggara, yang memiliki iklim hangat serta musim dingin lebih singkat, seperti California, Nevada, Texas, Oklahoma, Florida, New Mexico, dan sebagainya.

Jumat, 07 Oktober 2016

Herbert West - Reanimator (part 6/tamat)

Penulis: H. P. Lovecraft

Catatan: lanjutan dari 6 seri serial pendek horor yang berkisah tentang Herbert West, ilmuwan yang terobsesi menghidupkan orang mati. Kisah ini dibawakan lewat narasi napak tilas sahabat Herbert West sejak mereka masih mahasiswa sekolah kedokteran. Baca bagian sebelumnya di sini.




Ketika dr. Herbert West menghilang tahun lalu, kepolisian Boston menginterogasiku. Mereka menduga aku menyembunyikan sesuatu, atau bahkan lebih buruk lagi, tapi aku tak bisa menceritakan yang sebenarnya karena mereka tak akan percaya. Tetapi, mereka setidaknya tahu bahwa West terlibat dalam aktivitas yang tidak biasa; eksperimen mengerikannya terkait menghidupkan mayat sudah berkembang terlalu jauh sehingga semakin sulit dirahasiakan. Akan tetapi, peristiwa terakhir yang mengguncangkan jiwa itu lebih terasa seperti fantasi iblis, yang bahkan mampu membuatku meragukan realita yang kulihat.

Aku adalah teman terdekat West sekaligus satu-satunya asisten berharganya. Kami bertemu bertahun-tahun silam di fakultas kedokteran, dan sejak saat itu, aku dan dia berbagi rahasia penelitian mengerikannya. Dia telah lama mencoba mengembangkan semacam larutan sempurna yang, ketika disuntikkan ke nadi mayat segar, akan mengembalikan daya hidupnya. Sebuah tugas yang menuntut mayat segar berlimpah dan dengan sendirinya melibatkan berbagai tindakan ganjil. Yang lebih mengejutkan adalah hasil beberapa eksperimennya--gumpalan daging yang sudah mati namun dihidupkan West menjadi sosok bergerak yang buta, tak berotak, dan memualkan. Itu sudah bisa ditebak, sebenarnya, karena mengembalikan daya pikir seperti semula membutuhkan spesimen yang benar-benar segar, tanpa proses pembusukan yang akan memengaruhi sel-sel otak.

Kebutuhan akan pasokan mayat segar inilah yang telah meruntuhkan moral West. Mayat sulit didapat, dan ada satu saat yang mengerikan dimana dia mendapat spesimen yang benar-benar segar; sedikit perkelahian, jarum suntik, dan alkaloid mematikan dalam sekejap mengubah orang itu menjadi spesimen segar, dan eksperimen West sesudahnya cukup sukses. Hasilnya, West berubah menjadi sosok dengan jiwa yang tumpul, dengan mata dingin yang sesekali hidup dengan sorot menilai, terutama saat memandang orang-orang dengan kemampuan mental yang hebat dan fisik yang bagus, Menjelang saat-saat terakhir kami bersama, aku semakin takut pada West, karena dia juga mulai melihatku dengan tatapan itu. Orang lain sepertinya tidak menyadarinya, tapi mereka menyadari ketakutanku, dan setelah West menghilang, mereka mulai mengembangkan berbagai kecurigaan absurd.

Kenyataannya, West justru jauh lebih ketakutan daripada aku, karena misi mengerikannya membuatnya hidup dengan ketakutan terhadap berbagai bayang-bayang. Sebagian karena takut dikejar polisi, tetapi terkadang ketakutannya jauh lebih dalam, terkait hal-hal yang tak bisa dijelaskan, termasuk bahan-bahan yang dia suntikkan ke dalam tubuh mayat, namun tak satupun yang bertahan hidup lama. Dia biasanya menyelesaikan eksperimennya dengan tembakan pistol, tapi ada beberapa kejadian dimana dia tidak cukup cepat.

Ada mayat pertama kami, yang kabur dan menyisakan kuburan kosong dengan bekas cakaran. Ada juga mayat profesor kami dari Arkham yang melakukan kanibalisme sebelum ditangkap polisi dan dimasukkan ke sel rumah sakit jiwa di Sefton, dimana dia membentur-benturkan diri ke tembok selama enam belas tahun. Tapi hasil percobaan West yang lainnya lebih sulit dijelaskan, karena bertahun-tahun setelahnya, minat ilmiah West telah merosot menjadi mania fantastis yang tak sehat. Dia telah mencurahkan semua keahliannya bukan hanya untuk menghidupkan mayat, tetapi bahkan jjuga bagian tubuh yang terpisah, atau bagian tubuh yang disambungkan ke jaringan makhluk hidup lain. Hal itu menjadi begitu menjijikkan; banyak dari eksperimen ini bahkan tidak bisa ditulis. Perang Dunia, dimana kami sama-sama pernah bertugas sebagai dokter bedah, hanya semakin menajamkan sisi mengerikan ini dari diri West.

Kupikir aku tahu mengapa West merasa sangat ketakutan terhadap spesimen-spesimen percobaan masa lalunya. Sebagian karena dia tahu bahwa makhluk-makhluk itu masih ada di luar sana, dan sebagian karena dia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap dirinya. Hilangnya makhluk-makhluk itu semakin menambah ketakutannya, apalagi West hanya mengetahui keberadaan satu mayat hidup, yaitu sosok menyedihkan di rumah sakit jiwa itu. Kemudian ada ketakutan yang lebih tersamar, sensasi fantastis akibat percobaan ganjil dalam resimen militer Kanada pada tahun 1915. Di tengah pertempuran, West telah menghidupkan kembali Mayor Sir Eric Moreland Clapham-Lee, D.S.O., rekan sesama dokter yang mengetahui eksperimennya dan bahkan mampu menirunya. Kepala si dokter terpenggal, sehingga West melakukan percobaan untuk melihat keberadaan tanda-tanda kecerdasan di tubuhnya. Tanda-tanda kesuksesan muncul tepat sebelum bom tentara Jerman menghantam gedung kami. Tubuh mayat itu bergerak, dan kami bahkan yakin ada suara yang keluar dari kepala terpenggal yang disimpan di sudut laboratorium. Bom itu bisa dibilang rahmat, tapi West tidak sepenuhnya yakin bahwa kami adalah satu-satunya yang selamat. Dia terkadang berkomentar tentang apa yang akan dilakukan si dokter tanpa kepala, yang mungkin juga punya kemampuan menghidupkan orang mati.

Kediaman terakhir West adalah sebuah rumah tua yang elegan, dibangun menghadap salah satu pemakaman tertua di Boston. Dia memilih tempat itu murni karena faktor simbolis dan estetika fantastisnya, karena perabot rumah itu kebanyakan dari periode kolonial dan tidak banyak gunanya untuk seorang ilmuwan yang berhasrat mencari banyak mayat segar Laboratoriumnya terletak di ruang bawah tanah yang dibangun khusus oleh para pekerja asing, dan memiliki tungku pembakar besar untuk menyingkirkan mayat atau sisa-sisa tubuh hasil percobaan ganjil si tuan rumah tanpa keributan. Ketika sedang menggali, para pekerja menemukan peninggalan batu purba, yang tidak diragukan lagi berkaitan dengan sejarah pemakaman tua itu, walaupun letaknya terlalu dalam. Setelah melakukan penelitian singkat, West menyimpulkan bahwa benda itu berasal dari ruangan rahasia di bawah makam keluarga Averill, dimana proses penguburan terakhir dilakukan pada tahun 1768.

Aku menyertai West saat dia menelusuri dinding ruangan rahasia yang telah digali oleh para pekerja, dan kami sudah bersiap-siap menemukan rahasia berabad-abad dari pemakaman tua. Akan tetapi, untuk pertama kalinya, rasa takut mengalahkan keingintahuan ilmiah West, dan dia menyuruh para pekerja untuk tidak menyentuh ruangan rahasia itu, serta menutup dan melapisinya dengan semen. Begitulah keadaannya sampai malam mengerikan itu. Di luar, West tetap sama--tenang, dingin, cermat dan berambut kuning, dengan mata biru berlapis kacamata dan kesan muda yang nampak tak berubah seiring waktu. Ketenangannya tak berubah meskipun dia terus membayangkan kuburan rusak serta sosok ganas yang terkurung di balik jeruji Rumah Sakit Jiwa Sefton.

Akhir riwayat Herbert West dimulai pada satu malam di ruang kerja kami, saat dia sibuk menekuni surat kabar. Sebuah judul dari lembar koran yang setengah kusut membuat ketakutan masa silamnya menyeruak. Sesuatu yang mengerikan telah terjadi di Rumah Sakit Jiwa Sefton, 50 mil jauhnya dari kediaman kami, menggegerkan masyarakat dan membingungkan para polisi. Sekelompok orang memasuki bangunan rumah sakit tanpa suara, dan pemimpinnya membangunkan para penjaga. Sosok itu nampak mengintimidasi dan berbalut seragam militer, yang nampaknya berbicara tanpa menggerakkan bibirnya, dan suaranya seolah keluar dari dalam kotak hitam yang dibawanya. Wajahnya yang tanpa ekspresi sekilas sangat tampan, namun ketika cahaya lampu menimpanya, para penjaga di rumah sakit jiwa itu terkejut melihat bahwa wajah itu ternyata terbuat dari lilin, dengan bola mata kaca.

Satu sosok yang lebih besar menuntun pria berbaju militer ini; sesosok raksasa dengan wajah kebiruan yang seolah sudah separuh hancur akibat penyakit tertentu. Sosok berbaju militer itu meminta agar si monster kanibal yang dimasukkan ke rumah sakit jiwa itu enam belas tahun yang lalu dibebaskan. Ketika permintaannya ditolak, sosok itu meneriakkan komando yang memulai kerusuhan besar-besaran. Rombongannya segera menyerang, menginjak-injak dan menggigit para penjaga yang tak berhasil kabur, membunuh empat orang dan berhasil membebaskan monster itu. Para korban selamat dari kerusuhan itu bersumpah dengan histeris bahwa sosok-sosok yang menyerang mereka tak kelihatan seperti manusia, dan lebih mirip makhluk-makhluk ganjil dengan gerak-gerik serba otomatis yang bergantung pada perintah si sosok berwajah lilin. Ketika polisi datang, rombongan itu telah menghilang.

West hanya bisa terduduk kaku di tempat, dan ketika bel pintu mendadak berbunyi pada tengah malam, dia terperanjat dan nampak ketakutan. Para pembantu kami sedang tidur di loteng, jadi aku membuka pintu.

Seperti yang sudah kujelaskan berkali-kali pada setiap polisi, saat aku membuka pintu, aku melihat sekelompok sosok ganjil, masing-masing membawa kotak persegi besar yang mereka letakkan di teras. Salah satu dari mereka berujar dengan suara melengking ganjil: "Kiriman...sudah dibayar." Mereka kemudian berbalik dan pergi dengan langkah tertatih-tatih, dan ketika melihat mereka pergi, aku mendapat pemikiran aneh bahwa mereka pergi ke kuburan tua yang ada di dekat rumah kami. Aku membanting pintu saat West turun dan memandang kotak itu. Ukurannya sekitar dua kaki persegi, dengan nama dan alamat West tercantum lengkap. Di atas kotak itu, ada pesan:

Dari Eric Moreland Clapham-Lee, St. Eloi, Flanders.

Enam tahun yang lalu, di Flanders, rumah sakit tempat kami pernah bekerja selama perang hancur karena bom dan menimpa mayat Dokter Clapham-Lee, serta kepalanya yang terpisah dan sepertinya sempat mengeluarkan suara. West tak senang melihatnya, dan wajahnya memucat seperti hantu. Dia menukas, "Ayo bakar...benda ini." Kami membawa kotak itu ke laboratorium dan memasukkannya ke dalam alat pembakar, tanpa dibuka. Karena nama yang tercantum di kotak itu, bagiku rasanya seperti membakar mayat Herbert West.

Ketika serpihan-serpihan plester putih mulai berjatuhan dari bagian tembok dimana lorong menuju ruangan makam rahasia itu ditutup, West adalah yang pertama melihatnya. Aku hendak lari, tapi dia menghentikanku. Sedikit bagian tembok itu akhirnya runtuh, dan kami merasakan hembusan angin sedingin es, bersamaan dengan masuknya aroma bercampur bau busuk. Tak ada suara yang keluar, namun tepat sebelum cahaya lampu padam, aku melihat siluet lewat lubang kecil di lorong yang ditutup tembok batu itu; sosok-sosok bisu yang kengeriannya hanya bisa diciptakan oleh kegilaan. Ada yang mirip manusia, separuh mirip manusia, dan ada yang sama sekali tak mirip manusia utuh; sangat beragam, namun sama mengerikannya. 

Sosok-sosok itu mulai memindahkan batu-batu, satu demi satu, dari tembok tua itu. Ketika lorong tua itu akhirnya cukup lebar, mereka masuk ke dalam laboratorium dalam satu barisan, dipimpin sosok besar dengan kepala terbuat dari lilin. Sosok itu mendadak menyambar tubuh Herbert West, yang tidak melawan dan sama sekali tak bisa bersuara. Mayat-mayat hidup itu kemudian ikut menerjangnya, mencabik-cabik tubuh West di depan mataku, sebelum membawa serpih-serpih tubuhnya kembali ke lorong gelap menuju neraka itu. Si pemimpin-berkepala-lilin, yang mengenakan seragam militer Kanada, membawa kelapa West. Ketika bayangan mereka nampak makin samar, aku melihat mata biru West, menatap nyalang dengan emosi tak terkatakan yang jelas terpancar.

Para pembantu menemukanku pingsan keesokan harinya. West menghilang. Alat pembakar kami hanya menyisakan abu. Para detektif menanyaiku, tapi apa yang bisa kukatakan? Mereka tak bisa mengaitkan peristiwa di Rumah Sakit Jiwa Sefton dengan hilangnya West. Aku memberitahu mereka tentang ruangan rahasia itu, yang anehnya sudah utuh lagi, namun mereka hanya tertawa, jadi aku tak berkata apa-apa lagi. Mereka pikir aku gila, atau pembunuh. Mungkin gila lebih tepat. Tapi kurasa aku tak akan jadi segila ini seandainya saja gerombolan terkutuk itu mengatakan sesuatu.

Tamat