Selasa, 22 September 2015

Cakar Monyet

Judul asli: The Monkey's Paw

Penulis: William W. Jacobs




Malam itu dingin dan lembab, namun api berkobar terang di perapian ruang keluarga mungil di Laburnum Villa, dimana Tuan White dan putranya, Herbert, sedang asyik bermain catur. Nyonya White, seorang wanita tua berambut putih, duduk merajut di depan perapian sambil sesekali melontarkan komentar tentang pertandingan catur tersebut.

"Coba dengar suara angin itu," tukas Tuan White. Dia telah keliru menggerakkan biji caturnya, dan dia ingin mengalihkan perhatian putranya agar tak melihatnya.

"Aku dengar, kok," tukas putranya, masih tetap berkonsentrasi pada papan caturnya.

"Kurasa dia tak akan datang malam ini," gumam sang ayah, menyentuh papan caturnya. 

"Skak mat," ujar putranya sebagai jawaban.

"Itulah jeleknya tinggal di sini!" Tuan White mendadak menyentak. "Dari semua tempat terpencil lembab di luar sana, ini yang terburuk. Jalanannya seperti rawa-rawa dan sungai, tapi tak ada yang peduli karena memang hanya dua rumah di daerah ini yang ditinggali."

"Jangan khawatir, sayang," ujar Nyonya White. "Kau pasti akan menang lain kali."

Tuan White mengangkat kepalanya, tepat pada saat istri dan putranya bertukar pandang sekilas, dan dia buru-buru menyembunyikan seringai bersalah di balik janggut kelabunya.

"Itu dia," tukas Herbert ketika mendengar suara pintu pagar dan langkah kaki berat mendekati pintu.

Tuan White cepat-cepat berdiri untuk membuka pintu. Dia kembali bersama seorang pria tinggi kekar bermata kecil cemerlang dan berwajah kemerahan.

"Ini Sersan Mayor Morris," ujar Tuan White.

Prajurit itu menjabat tangan semua orang, lalu duduk dengan enak di depan perapian sementara Tuan White mengambil wiski dan beberapa buah gelas. Setelah minum tiga gelas, mata prajurit itu nampak semakin cerah, dan dia mulai mengoceh. Keluarga itu mendengarkan dengan tertarik saat sang prajurit yang telah berkelana jauh itu bercerita tentang berbagai petualangan seru, pengalamannya dalam perang, wabah, serta negeri-negeri asing.

"Dua puluh satu tahun yang lalu, ketika dia pergi, dia cuma bocah pekerja gudang," ujar Tuan White pada istri dan putranya. "Coba lihat dia sekarang."

"Dia memang nampak hebat," ujar Nyonya White, menyetujui dengan sopan.

"Aku ingin sekali bisa ke India," ujar Tuan White, "Kau tahu, cuma untuk melihat-lihat."

"Tidak, kau lebih baik kalau di sini saja," tukas si prajurit, menggelengkan kepalanya. Dia menaruh gelas kosongnya di meja, mendesah, lalu menggeleng lagi.

"Tapi aku ingin melihat kuil-kuil tua itu, melihat para fakir dan pemain akrobat," Tuan White melanjutkan. "Dan bagaimana dengan Cakar Monyet yang kau ceritakan padaku tempo hari, Morris?"

"Itu bukan apa-apa," tukas sang prajurit cepat. "Bukan cerita yang menarik."

"Cakar Monyet?" Tanya Nyonya White, tertarik.

"Yah...itu mungkin sesuatu yang akan kau sebut jimat." Ujar sang prajurit dengan santai. Keluarga itu mendengarkan dengan seksama, dan Tuan White mengisi gelasnya lagi.

"Kalau dilihat sepintas, itu hanya cakar monyet kering biasa," ujar Sersan Mayor Moris sambil mengeluarkan benda yang dimaksud dari sakunya. Nyonya White mundur sedikit dengan jijik, tapi putranya memeriksanya dengan seksama.

"Apa istimewanya benda ini?" Tanya Tuan White, mengambil benda itu dari tangan putranya, menelitinya, dan meletakkannya di meja.

"Seorang fakir tua memberi jampi-jampi ke benda ini. Dia orang suci yang ingin menunjukkan bahwa takdir menguasai kehidupan kita, dan mencoba mengubah takdir hanya akan membawa kesengsaraan. Jampi-jampinya membuat Cakar Monyet ini bisa mengabulkan tiga permintaan dari tiga orang yang berbeda."

Gayanya saat bercerita begitu mengesankan, membuat keluarga itu merasa bahwa letusan tawa mereka barusan kurang pantas.

"Nah, jadi apakah kau tak punya tiga permintaan?"

Sang prajurit menatapnya seolah dia anak bodoh. "Tentu saja aku punya," ujarnya pelan, dan raut wajahnya memucat.

"Dan apakah ketiga permintaanmu terkabul?" Tanya Nyonya White.

"Ya."

"Apakah ada yang sudah pernah memohon sebelumnya?" Nyonya itu terus mendesak.

"Yah, orang sebelum aku juga mendapat tiga permintaan. Aku tak tahu apa dua permintaan sebelumnya, tapi dia memohon untuk mati sebagai permintaan ketiganya. Itulah sebabnya aku mendapatkan cakar ini."

Dia nampak begitu serius sehingga keluarga itu terdiam.

"Kalau semua permintaanmu sudah terkabul, cakar itu tak ada gunanya lagi bagimu," ujar Tuan White. "Kenapa kau masih menyimpannya?"

Prajurit itu menggelengkan kepalanya dan berkata pelan, "Oh, kayaknya aku cuma tertarik. Aku berpikir untuk menjualnya, tapi kurasa aku tak akan melakukannya. Cakar ini sudah menimbulkan cukup banyak masalah. Tapi toh tak ada yang mau membelinya. Mereka pikir ini cuma dongeng, dan yang percaya ingin mencobanya dulu sebelum membayar."

"Seandainya kau bisa punya tiga permintaan lagi," ujar Tuan White dengan nada tertarik, "Apakah kau akan meminta sesuatu?"

"Aku tak tahu, aku tak tahu!"

Sersan Mayor Morris mendadak menyambar Cakar Monyet itu dan melemparnya ke perapian. Tuan White memekik ngeri dan buru-buru membungkuk untuk mengambilnya.

"Biarkan saja itu terbakar," tukas sang prajurit.

"Kalau kau tak menginginkannya, Morris, berikan ini padaku."

"Tidak, aku sudah membuangnya! Kalau kau menyimpannya, jangan pernah salahkan aku. Berpikirlah yang lurus; lemparkan lagi benda itu ke api!"

Akan tetapi, Tuan White hanya mengamati benda itu dengan seksama, lantas menggelengkan kepalanya. "Bagaimana cara melakukannya, Morris?"

"Pegang dengan tangan kananmu, lalu ucapkan permintaannya keras-keras. Tapi kuingatkan padamu, akan ada konsekuensinya."

"Kedengaranya seperti di cerita Arabian Nights," ujar Nyonya White sambil mulai menyiapkan makan malam. "Hei, kenapa kau tidak minta empat pasang tangan ekstra untukku?"

Sang suami tertawa dan hendak mengucapkan permintaan, namun terdiam kaget ketika Sersan Mayor Morris menangkap lengannya.

"Kalau kau masih ngotot," ujarnya dengan nada tegas, "Mintalah sesuatu yang masuk akal."

Tuan White akhirnya menaruh kembali Cakar Monyet itu di sakunya, dan mereka semua duduk untuk makan malam. Jimat itu akhirnya terlupakan ketika sang prajurit mulai menyombong tentang petualangan serunya di India. Ketika dia akhirnya pamit, Tuan White berkomentar bahwa Cakar Monyet itu bisa jadi palsu, sama palsunya dengan cerita-cerita Morris.

"Apa kau membayarnya untuk benda itu?" Tanya Nyonya White.

"Oh, cuma sedikit. Dia menolak, tapi aku memaksanya. Dan dia menyuruhku lagi untuk membuang benda itu."

"Tentu saja!" Seru Herbert, sarkastis. "Kita semua bakal kaya dan terkenal! Coba ayah memohon untuk menjadi kaisar, jadi ibu tak akan bisa lagi menyuruh-nyuruh ayah."

Nyonya White pura-pura marah dan mengejar putranya melintasi meja makan, sementara Tuan White menatap Cakar Monyet itu dengan tatapan ragu.

"Jujur, aku tak tahu apa yang harus kuminta," ujarnya pelan. "Aku sudah punya semua yang kuinginkan."

"Kalau memohon agar pembayaran rumah kita selesai, ayah pasti mau, 'kan?" Tanya Herbert. "Mintalah dua ratus Pound. Sepertinya itu cukup."

Sang ayah, dengan berlagak malu, akhirnya mengacungkan jimat itu dengan tangan kanannya, sementara Herbert berkedip pada ibunya sebelum duduk di depan piano dan memainkan beberapa nada mencekam.

"Aku memohon uang dua ratus Pound," ujar Tuan White dengan tegas.

Ketika Herbert memainkan nada-nada dramatis, ayahnya mendadak menjerit dengan suara gemetar. Istri dan putranya segera berlari menghampirinya.

"Jimatnya bergerak!" Seru Tuan White sambil menatap ngeri ke jimat yang kini berada di lantai. "Saat aku mengucapkan permintaanku, cakar itu menggeliat di tanganku, seperti ular."

"Nah, aku tak melihat ada uang," ujar Herbert sambil memungut Cakar Monyet itu. "Dan kurasa tak akan pernah ada uang."

"Itu pasti hanya bayanganmu," ujar Nyonya White, menatap suaminya dengan cemas.

Suaminya menggeleng. "Tak apa-apa. Tak ada yang terluka. Aku kaget, itu saja."

Mereka duduk lagi di depan perapian. Saat Tuan White mengisap pipa rokoknya, angin bertiup makin kencang di luar, dan dia menjadi gugup ketika mendengar suara pintu terbanting menutup di lantai dua. Keheningan yang ganjil dan mencekam melanda keluarga itu. Pasangan itu akhirnya memutuskan untuk tidur.

"Mungkin nanti ada kantong uang besar muncul di tempat tidurmu," ujar Herbert bercanda sebelum mengucapkan selamat malam pada mereka.

Herbert duduk selama beberapa waktu di kegelapan, memandang perapian, dan melihat bayangan wajah-wajah di kobaran api. Salah satu wajah itu nampak mengerikan, seperti monyet, dan dia hanya bisa terpana menatapnya. Ketika dia menyadari bahwa Cakar Monyet itu masih ada di genggamannya, dia cepat-cepat melemparnya dengan gemetar sebelum menyapukan tangannya pada bajunya, sebelum pergi tidur.

***

Keesokan harinya, Herbert tertawa mengingat ketakutannya malam sebelumnya. Matahari musim dingin menyinari ruangan yang kini nampak normal-normal saja, dan Cakar Monyet kering yang kotor itu masih ada di lantai setelah dia melemparkannya.

"Semua prajurit tua sama saja, kukira," ujar Nyonya White. "Buat apa kita mendengarkan omong kosong seperti itu? Bagaimana mungkin permintaan dikabulkan begitu saja? Kalaupun bisa, bagaimana mungkin uang dua ratus Pound akan menyakiti kita?"

"Bisa saja uang itu jatuh dari langit menimpa kepala ayah," canda Herbert.

"Morris bilang, permintaan kita terjadi secara alami," ujar ayahnya. "Mungkin terjadi karena kebetulan."

"Kalau begitu, jangan habiskan uangnya sebelum aku pulang," ujar Herbert, lalu pergi ke luar. Ibunya memerhatikannya saat dia menyusuri jalan desa ke tempat kerjanya. Tentu saja dia tak percaya jimat itu benar-benar bisa mengabulkan permintaan, tetapi Nyonya White tetap berlari menuju pintu saat tukang pos mengetuknya, dan merasa kecewa ketika tahu tukang pos hanya membawa surat tagihan.

"Herbert pasti akan meledek kita soal ini nanti," ujar Nyonya White.

"Ya, pasti," ujar Tuan White. "Tapi benda itu benar-benar bergerak di tanganku, aku yakin sekali."

"Maksudmu, kau pikir benda itu bergerak."

"Tidak, benda itu benar-benar bergerak, kuberitahu kau. Aku tidak...ada apa?"

Nyonya White tidak menjawab. Wanita itu memerhatikan seseorang di luar, yang sepertinya sedang mengira-ngira apakah dia sebaiknya membuka pintu pagar atau tidak. Orang itu berpakaian bagus dan mengenakan topi sutra, dan dia berhenti tiga kali di depan pintu pagar sebelum berjalan menjauh. Akhirnya, ketika datang untuk yang keempat kalinya, dia menaruh tangannya di pintu pagar, membukanya, dan masuk. Nyonya White membuka pintu dan menyilakan orang itu masuk. Tamu itu nampak khawator dan tak nyaman, dan hanya berani menatap mereka dari sudut matanya.

"Saya...saya diminta datang," ujarnya ragu-ragu. "Saya dari Maw and Meggins."

Nyonya White nampak terperanjat. "Ada apa? Apakah ada yang terjadi pada Herbert?"

"Nah, nah, jangan cemas begitu," tukas suaminya. "Aku yakin bukan berita buruk. Bukankah begitu, tuan?" Dia menatap tamunya dengan penuh harap.

"Maafkan saya...."

"Apakah dia terluka?" Tuntut Nyonya White.

Sang tamu menunduk. "Parah sekali," ujarnya pelan. "Tapi dia tidak kesakitan."

"Oh, syukurlah!"

Akan tetapi, makna mengerikan dari perkataan tamunya barusan pelan-pelan meresap, dan Nyonya White akhirnya menatapnya. Sang tamu memalingkan wajahnya, memastikan ketakutan terbesarnya. Sang nyonya menahan napas dan meletakkan tangannya yang gemetar di atas tangan suaminya. Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu.

"Dia terperangkap di dalam mesin," ujar sang tamu pelan.

"Terperangkap?" Gumam Tuan White, masih nampak bingung. Dia menatap pintu dan menggenggam tangan istrinya erat-erat, seperti ketika mereka masih pasangan muda, empat puluh tahun yang lalu. "Dia anak tunggal," ujarnya pada tamunya. "Ini berat sekali."

Sang tamu batuk pelan, dan berdiri lalu berjalan ke jendela. "Perusahaan meminta saya menyampaikan rasa simpati mereka atas tragedi ini," ujarnya tanpa berani melihat ke pasangan tua itu.

Tak ada jawaban. Nyonya White nampak pucat, matanya menatap ke kejauhan. Ekspresi wajah Tuan White nampak gelap dan serius.

"Saya juga harus memberitahu bahwa Maw and Meggins tidak bertanggung jawab terhadap kecelakaan tersebut," ujar sang tamu lagi. "Tapi, sebagai penghargaan atas kerja putra Anda selama ini, mereka memberikan Anda kompensasi."

Tuan White melepaskan tangan istrinya dan menatap sang tamu dengan ngeri.

"Berapa?"

"Dua ratus Pound."

Tuan White tersenyum samar, mengulurkan tangan selaku orang buta, sebelum ambruk ke lantai dan pingsan.

***

Setelah memakamkan putra mereka secara besar-besaran di pemakaman dua mil jauhnya, pasangan tua itu kembali ke rumah mereka yang muram dan hening. Semuanya terjadi begitu cepat sehingga mereka nyaris tidak menyadarinya. Mereka mengharapkan sesuatu yang lain akan terjadi, untuk menghilangkan beban berat dari hati mereka yang tua. Akan tetapi, hari demi hari berlalu, dan harapan mereka berganti dengan keputusasaan. Mereka jarang bicara, karena sudah tak banyak yang bisa dibicarakan. Setiap hari terasa panjang dan sepi.

Sekitar seminggu kemudian, sang suami terbangun di tengah malam karena mendengar suara tangisan dekat jendela kamarnya. Dia duduk beberapa saat, mendengarkan.

"Ayolah," ujarnya lembut. "Kembalilah tidur, kau akan kedinginan."

"Di luar lebih dingin lagi untuk anakku," ujar istrinya sambil terus menangis.

Suara tangisan pelan-pelan mereda ketika sang suami memutuskan tidur lagi, namun seruan keras istrinya membuatnya terperanjat bangun.

"Cakarnya!" Seru sang istri. "Cakar monyet itu!"

"Kenapa? Di mana? Ada apa?" Suaminya berseru panik.

Sang istri mendekatinya. "Aku memerlukannya. Apakah kau menghancurkannya?"

"Ada di ruang tamu," ujar suaminya heran. "Kenapa?"

"Aku baru memikirkannya," ujar sang istri, nyaris histeris. "Kenapa aku tak memikirkannya sebelumnya? Kenapa kau tak memikirkannya?"

"Memikirkan apa?"

"Dua permintaan kita yang lain. Kita baru meminta satu."

"Apakah yang satu itu tidak cukup!?" Raung sang suami.

"Tidak, tidak, kita hanya akan gunakan satu lagi. Turunlah dan mintalah agar anak kita hidup lagi."

Sang suami terduduk di tempat tidur dan menyibakkan selimut dengan gemetar.

"Demi Tuhan, kau gila!"

"Ambillah," ujar istrinya dengan napas tersengal. "Ambil, cepat, dan mintalah. Anakku, oh, anakku!"

Tuan White menyalakan lilin. "Pergilah tidur. Kau tak tahu apa yang kau katakan."

Tapi istrinya terus meracau. "Permintaan pertama kita dikabulkan. Kenapa tidak yang kedua?"

"Itu cuma kebetulan," gagap suaminya.

"Ambil. Mintalah," ujar istrinya dengan gemetar karena bersemangat.

Suaminya menatapnya, lantas berkata dengan suara gemetar, "Dia sudah mati sepuluh hari, dan aku pun hanya bisa mengenalinya dari pakaiannya. Mayatnya terlalu mengerikan untuk kau lihat. Kau pikir sudah jadi seperti apa dia sekarang?"

Tapi, istrinya menariknya menuju pintu. "Hidupkan lagi dia. Kau pikir aku takut pada anakku sendiri?"

Sang suami menuruni tangga, meraba-raba dalam kegelapan sampai dia merasakan tempat gantungan mantel. Jimat itu ada di sana.

Mendadak, dia merasa takut kalau-kalau permintaannya yang tak terucap akan terkabul, dan mayat anaknya yang terkoyak-koyak akan kembali sebelum dia sempat melarikan diri dari ruangan itu. Sambil berkeringat dingin, dia terus meraba-raba melewati meja dan dinding, sampai akhirnya dia tiba di lorong menuju kamar. Jimat kering yang kotor berkerut-kerut itu tergenggam di tangannya.

Wajah istrinya nampak berbeda saat dia memasuki kamar; pucat dan penuh harap, dan ekspresinya yang ganjil membuat suaminya ketakutan.

"Mintalah!" Seru istrinya.

"Ini bodoh," ujar suaminya, ragu-ragu.

"Mintalah!" Ulang sang istri.

Sang suami akhirnya mengangkat tangannya. "Aku memohon agar anakku hidup lagi."

Cakar Monyet itu jatuh ke lantai. Sang suami menatapnya dengan ketakutan, lantas dia terduduk dengan gemetar di kursi. Sang istri, dengan mata menyala-nyala, berjalan ke jendela dan menarik tirainya terbuka. Tuan White tetap duduk, merinding sampai ke tulang, sesekali melirik ke arah istrinya yang sedang memandang ke luar jendela. Api lilin yang sudah semakin pendek memantulkan bayang-bayang yang bergoyang-goyang di langit-langit dan dinding, sebelum akhirnya padam. Sang suami merasa sangat lega ketika menyadari permintaannya tidak terkabul, dan merayap kembali ke tempat tidur. Beberapa menit kemudian, istrinya menyusul dalam keheningan dan depresi.

Keduanya tak berbicara, melainkan mendengar suara tik-tok jam dinding. Tangga berkeriut; seekor tikus terdengar berlari di balik dinding. Kegelapan itu terasa menekan. Setelah mengumpulkan keberaniannya, Tuan White akhirnya menyalakan sebatang korek api, membawa kotak korek, dan berjalan menuruni tangga.

Api korek padam ketika Tuan White tiba di dasar tangga. Tuan White berhenti untuk menyalakan sebatang korek, dan di saat yang bersamaan, terdengar suara ketukan di pintu, ketukan yang begitu pelan sehingga nyaris tak terdengar.

Korek api terjatuh dari tangan Tuan White ketika dia berdiri terpaku seperti patung, napasnya tercekat. Suara ketukan itu lagi. Tuan White berlari kembali ke kamarnya, menutup pintu. Suara ketukan itu terdengar lagi di bawah.

"Apa itu?" Seru istrinya, terduduk.

"Tikus," ujar Tuan White gemetar. "Ada tikus berlari melewatiku di tangga."

Istrinya duduk mendengarkan. Suara ketukan kembali bergema ke seluruh rumah.

"Herbert!" Seru sang istri. "Itu Herbert!"

Sang istri berlari ke pintu kamar, namun suaminya lebih cepat. Dia menyambar istrinya dan merangkulnya erat.

"Apa yang akan kau lakukan?" Desisnya.

Nyonya White berusaha melepaskan dirinya. "Itu anakku. Itu Herbert! Aku sudah lupa dia dimakamkan dua mil jauhnya. Kenapa kau memegangiku? Lepaskan aku, aku harus membuka pintu!"

"Demi Tuhan, jangan biarkan dia masuk!" Jerit suaminya.

"Kau takut pada anakmu sendiri? Lepaskan aku! Ibu datang, Herbert, ibu datang!"

Suara ketukan itu terdengar lagi, dan lagi. Dengan satu sentakan, sang istri membebaskan dirinya, dan berlari keluar kamar. Tuan White mengikutinya ke tangga dan berteriak-teriak memohon saat istrinya berlari menuruni tangga. Dia mendengar rantai pintu dilepas, dan gerendel pintu bagian bawah terbuka. Suara Nyonya White terdengar tersengal, "Gerendel atasnya! Aku tak bisa mencapainya! Turunlah!"

Akan tetapi, Tuan White sedang merangkak di lantai dan meraba-raba, berusaha mencari Cakar Monyet itu. Kalau saja dia bisa menemukannya sebelum makhluk itu masuk! Suara ketukan susul-menyusul bergema ke seluruh rumah. Dia bisa mendengar suara kursi bergeser di lantai saat istrinya menariknya. Dia mendengar suara gerendel dibuka, dan pada saat yang bersamaan, dia menemukan Cakar Monyet itu dan bergegas mengucapkan permintaan ketiganya.

Suara ketukan mendadak berhenti, tetapi gemanya masih terngiang. Dia mendengar suara kursi digeser kembali, dan daun pintu dibuka. Hembusan angin dingin bertiup ke arah tangga, membawa ratapan sedih dan kecewa istrinya. Dia akhirnya memberanikan diri untuk berlari ke sisi istrinya, lantas ke pintu pagar. Lampu di seberang rumahnya berkedip-kedip menyinari jalanan yang sepi.

Tamat

Senin, 14 September 2015

Menjadi Manusia

Judul asli: To be Human
Penulis: Andrew Harmon


Hari ke-1

Aku memanggilnya George, karena dia penuh rasa ingin tahu*.

Dia adalah yang pertama dari jenisnya; sebuah eksperimen ilmiah sekaligus sosial. Dia bisa berjalan, bicara, dan belajar. Aku sudah berkonsultasi dengan semua ahli; mulai dari ahli neurologi sampai pengamat perilaku, hingga insinyur robotik dan elektrik. Walaupun George adalah android yang tingginya hanya empat kaki, dia sudah kuanggap anakku sendiri. George punya kepala besar dan bulat, dengan tubuh mirip semangka. Sepasang kaki pendek menunjang tubuh besarnya, dan dia punya lengan-lengan pendek dengan jari-jemari gemuk. Dia memang gempal, tapi sangat lincah.

George diprogram untuk meniru manusia, tapi tak mampu melakukan yang lainnya. Aku memang ingin mulai dari nol; aku tak ingin ada aturan atau pengetahuan dasar yang ditanamkan padanya. Ketika aku menyalakan George untuk pertama kalinya, kupikir aku gagal karena dia butuh dua menit hanya untuk mengucapkan sepatah kata. Kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan, mata LED birunya menoleh kesana-kemari. 

Kata-kata pertamanya adalah: "siapa aku?"

"Kau George," kataku.

"George," ulangnya.

Hari-hari berikutnya...bagaimana harus mendeskripsikannya? Sangat menakjubkan. George berjalan kesana-kemari, mengingat nama-nama semua rekan kerjaku, semua warna dan berbagai perlengkapan di laboratorium. Ketika dia melihat sesuatu yang baru, dia akan menunjuk, dan kami akan memberitahunya kata-kata baru untuk diingat. "Wastafel." "Oscilloscope." "Besi." Daftar kosakata George terus berkembang. Kami mengajarinya hitungan sederhana sampai 10. Aku mengajarinya matematika, dan otak digitalnya dengan cepat berkembang. Tapi, tujuan utamaku sebenarnya adalah mengajari George beragam konsep terkait kemanusiaan, dan hal-hal macam itu tak bisa diajarkan di dalam laboratorium yang sumpek.

Kami merencanakan debut pertama George di Konferensi Internasional Robotik dan Intelegensi Buatan (AI) di San Diego, dan aku agak cemas kalau berita tentang teknologi AI terbaru kami bocor sebelum waktunya. Kebetulan aku sudah hendak cuti, jadi kupikir, aku akan membawa George berkendara bersama istriku ke rumah peristirahatan milik mertuaku di tepi Danau Carlyle. Kupikir, George akan aman dari mata-mata usil di sana.

Istriku, Chelsea, adalah wanita memesona dan paling luar biasa yang pernah kutemui dalam hidupku. Dia pasti akan menjadi contoh baik untuk diikuti George. Chelsea sedang hamil tujuh bulan saat itu, dan dia sangat bersemangat menanti kelahiran bayinya, jadi kupikir dia pasti akan senang bisa merawat "anak robot" ini sambil menunggu hari H-nya. Dan di tepi Danau Carlyle, aku juga akan mengajari George tentang alam.

Hari ke-3

Perjalanan dari New York ke Illiniois sangat panjang, tapi damai. George duduk di kursi belakang, menunjuk macam-macam ke luar jendela. Akan tetapi, benda-benda di luar berlalu terlalu cepat sebelum aku bisa memberitahu namanya. Istriku ternyata tidak begitu senang dengan keputusanku. Mungkin karena George nampak sangat aneh; familiar sekaligus berbeda dengan cara yang janggal. Salah satu isu yang kerap diusung kalau sudah menyangkut teknologi robot yang mirip manusia.

"Dia lumayan lucu, 'kan?" Tanyaku.

"Matanya menakutkan. Kenapa dia terus memandangiku?" Tanya istriku.

"George cuma penasaran. Iya 'kan, George?"

"Oh, jelas!" Seru George, walau penekanan kata-katanya agak janggal. "Oh, jelas!" adalah seruan yang sering kugunakan di laboratorium, dan George rupanya mengingatnya serta menjadikannya celetukan khasnya.

Kami tiba di rumah peristirahatan cantik itu pada hari Minggu siang, dan pemandangannya luar biasa. Pepohonannya rimbun, dan lapangan rumput hijau segar ada di bawah kaki kami. Air Danau Carlyle bergejolak malas di bawah pemandangan perbukitan. Burung-burung bersiul di kejauhan saat kami menurunkan barang-barang dari mobil, walaupun aku yang melakukan sebagian besar tugas itu karena Chelsea tak sanggup melakukan aktifitas yang berat. George berkeliaran di halaman, sensor optiknya penuh dengan rangsangan visual pemandangan alam. Walau kerepotan mengangkut barang-barang, aku sebisa mungkin menjawab semua pertanyaannya. Ini Illinois, ujarku padanya. Pohon. Rumput. Burung. Jalan tanah. Rumah. Rasa ingin tahunya membuatku senang, tapi aku juga menyadari kalau Chelsea semakin kesal padanya.

Aku ingin sekali bilang kalau kami mengalami malam romantis di rumah peristirahatan terpencil itu, tapi tidak. Kami mungkin baru berada di rumah itu selama empat jam, ketika kantorku menelepon. Ada situasi gawat dan aku harus datang. Chelsea hanya mendesah; dia sudah terlalu sering mengalami hal ini. "Tak ada gunanya berdebat denganmu, James," ujarnya sambil membasahi serbet dan mengusap keningnya. Dramatis sekali, pikirku. "Pekerjaanmu memang yang paling penting untuk hidupmu, bukan aku. Jadi, pergi saja."

Aku tak akan menggambarkan secara rinci pertengkaran yang menyusul sesudahnya. Pokoknya, ada banyak cercaan dan sebutan buruk dan tangisan. Ketika semuanya sudah selesai, aku bilang padanya bahwa aku akan kembali hari Selasa. Aku memohon pada istriku untuk mengerti. "Hanya beberapa hari, lalu aku akan langsung naik pesawat dan pulang ke sini. Aku janji."

"Bagaimana dengannya?" Tanya Chelsea sambil menunjuk George.

"Anggap saja untuk latihanmu. Sampai si kecil ini datang," ujarku sambil tersenyum dan mengelus perutnya.

"Benda itu bukan anakku," tandas Chelsea. Dia membuka pintu lemari dan mengeluarkan roti tawar serta selai kacang untuk membuat roti isi, lalu membantingnya menutup. "Aku akan pastikan dia tidak rusak, tapi itu saja."

Hari ke-5

Aku sedang berada di Terminal 2 bandara San Fransisco pada hari Selasa, menunggu pesawatku. Aku menelepon Chelsea untuk memberitahunya kalau aku akan segera terbang, dan bertanya bagaimana keadaan di sana. Dia bilang dia sudah bosan sendirian, dan minta tolong padaku untuk membeli beberapa barang nanti. Dia ingin makan pizza.

"Bagaimana kabar George?" Tanyaku.

"Aku mencoba mengajaknya memasak bersamaku, tapi dia terus bertanya apa itu makanan dan mengapa aku harus makan, dan memintaku menjabarkan rasa makanan. Coba, bagaimana kau menjabarkan rasa makanan? Ketika dia tahu dia tak bisa makan, dia tak lagi tertarik," keluh Chelsea. "Jadi, aku taruh saja dia di depan TV, dan dia tak beranjak sejak itu."

"TV! Bagus, Chelsea!" Ujarku. "Dia akan belajar tentang interaksi manusia. Dia bisa menyelami kedalaman emosi dari beragam jenis interaksi. Dia sedang nonton apa sekarang?"

"Aku tidak tahu. Baywatch, sepertinya."

"Wah, wah, sepertinya dia juga akan belajar tentang seksualitas manusia," aku tersenyum dan berbisik di telepon, "mungkin kau dan aku bisa menyegarkan memori kita tentang itu saat aku kembali nanti."

Dia menganggapku tak lucu dan menutup teleponnya. Segera setelahnya, aku naik pesawat dan menghabiskan waktu sepanjang perjalanan mengetuk-ngetuk sandaran lengan dengan gelisah. Aku mendarat di St. Louis, menyewa mobil, dan berkendara ke Illinois.

Ketika aku akhirnya sampai, aku melihat George berdiri di tepi danau, tubuhnya yang dilapisi polimer putih merunduk di depan ember. Aku bergegas menghampirinya, khawatir dia akan jatuh ke danau dan rusak. Aku mencium bau amis yang kuat ketika aku mendekat. Rupanya, George telah meraup seember air penuh berisi ikan yang berenang-renang di dalamnya. Rumput di sekitar George penuh dengan ikan-ikan mati dan serpihan-serpihan isi perut mereka yang hancur.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku, lebih ke penasaran daripada ngeri.

"Orang-orang tenggelam," ujar George.

"Mereka bukan orang, George. Mereka ikan. Mereka tidak tenggelam, mereka memang hidup di air."

"Ikan," ulang George. Dia menatap ke embernya, kepalanya yang bundar berjuang memproses konsep makhluk yang hidup di dalam air. "Ajari aku Pertolongan Pertama."

Aku menatap bangkai-bangkai ikan di rerumputan. Perut mereka semua nampak ditekan ke dalam, koyak oleh jari-jemari George yang keras. Apakah dia meniru adegan di TV? Apakah dia mencoba menyelamatkan mereka dari 'tenggelam?' Apakah ini upayanya meniru adegan Pertolongan Pertama? Kulihat ujung-ujung jemari putihnya ternoda warna merah.

Hari ke-6

Setelah insiden ikan tersebut, aku dan Chelsea berpendapat bahwa George harus diberi tontonan acara edukasi yang lebih bermanfaat. George nampaknya senang duduk berjam-jam di depan TV, menyerap semua jenis informasi dari acara dokumenter yang dibawakan narator membosankan. 

Aku baru sadar kalau aku lupa membeli barang belanjaan titipan Chelsea karena terburu-buru. Berhubung pergi bolak-balik ke toko terdekat membutuhkan sekitar sembilan puluh menit waktu perjalanan, aku bergegas mencium kening istriku sebelum menyetir mobilku pergi. Chelsea mengamati kepergianku sambil minum teh di atas kursi goyang di beranda.

Sialnya, ban depan mobilku kempes saat aku baru setengah perjalanan ke toko. Aku juga tidak mendapat sinyal ponsel, jadi aku terpaksa berjalan kaki. Aku tahu Chelsea akan marah, tapi mau bagaimana lagi? Perjalanan ke toko yang harusnya sebentar menjadi berjam-jam lamanya. Ketika aku akhirnya tiba di rumah, Chelsea sudah selesai makan malam, dan makanan jatahku sudah dingin. Aku merasa pertengkaran lain akan meletus, jadi untuk meredakan situasi, aku mengajak Chelsea jalan-jalan romantis berdua di hutan. Kami meninggalkan George di depan TV, dengan burung-burung hutan Amazon dan monyet-monyet terpantul di matanya.

Malam itu tenang dan sejuk, jadi setelah jalan-jalan, kami menghabiskan waktu di beranda, bersantai di depan perapian. Chelsea kemudian pergi tidur, tapi aku masih duduk di luar untuk mengamati bintang. Lama-kelamaan, rasa kantuk mengalahkanku, dan aku tertidur selama satu-dua jam sebelum akhirnya terbangun karena kedinginan dan tersaruk-saruk memasuki rumah.

Hal yang paling menakutkan dari George adalah fakta bahwa dia tidak tidur. Saat itu sudah lewat tengah malam saat aku masuk, namun George masih duduk dan matanya menyala di depan dokumenter alam liar yang ditontonnya. Di layar nampak tiga ekor singa bersantai di atas rerumputan, mulut mereka ternoda oleh darah. Di belakang mereka, terdapat bangkai zebra yang dikerumuni lalat, digerogoti sampai ke tulang.

George rupanya mendengarku masuk melintasi ruang tengah. Ketika aku berdiri di belakang sofanya, George memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat hingga menatapku.

"Ajari aku tentang kematian," katanya.

Hari ke-7

Setelah sarapan, aku baru menyadari bahwa George tidak duduk di depan TV seperti biasanya. Aku menghabiskan kopiku dan mengenakan sepatu botku, lalu keluar untuk mencaritahu kemana dia berkeliaran. Aku tak akan bohong kalau kubilang aku khawatir; ini adalah robot yang bernilai jutaan Dolar, dan aku sudah bersikap sedikit ceroboh terhadapnya.

Aku melihat George duduk di bawah pohon tak jauh dari teras belakang. Ketika aku mendekat, bau daging busuk menyerbu hidungku. George nampaknya tak melihatku; pandangannya terarah ke bangkai rakun di depannya. Embun berkilauan di bulunya yang tidak rata, pertanda makhluk itu sudah ada di sana semalaman.

"Kaukah yang melakukan ini, George?"

"Apa tujuan mati?"

"Yah, itu bukan sesuatu yang kita inginkan, tapi itu terjadi."

"Apakah aku juga akan mati?"

"Tidak, George, kau tidak akan mati. Sebenarnya, kau sendiri tidak bisa dibilang hidup."

"Baiklah," ujar George datar, mengulurkan tangan dan menekan rusuk bangkai rakun itu. "Apa tujuan membunuh?"

"Kita tidak membunuh, George," aku berkata cepat.

"Hewan membunuh," tukas George. "Manusia membunuh dalam perang. Kenapa mereka membunuh?"

"Yah, perang itu rumit, George. Ketika manusia sangat menginginkan sesuatu, mereka kadang membunuh untuk itu."

"Jelas," ujar George.

Aku membawa George ke dalam rumah, berhati-hati untuk tidak menyebut-nyebut soal rakun itu di depan Chelsea. Dia sudah tidak suka kepada George, dan aku tidak mau memperburuk keadaan. Kami mematikan TV dan membiarkannya mengikuti kami kesana-kemari seharian itu.

Malam itu, Chelsea dan aku memilih nama untuk calon bayi kami: Matthew.

Hari ke-8

Aku menyesali keputusanku segera setelah aku melakukannya. Aku memberitahu Chelsea soal insiden ikan dan rakun tersebut padanya saat sarapan. Dia langsung marah mendengarnya. Dia bilang, George adalah mesin yang dingin tanpa emosi, dan menyuruhku mematikannya sebelum George mendapat ide-ide aneh lainnya soal kematian. Aku bilang pada Chelsea bahwa George tidak berbahaya. Akhirnya istriku memilih menghabiskan waktunya seharian di kamar.

Petang hari itu, ibu Chelsea menelepon. Dia tinggal di Hillsboro yang berjarak sejam berkendara, dan sekarang dia membutuhkan pertolongan. Ayah Chelsea jatuh di kamar mandi, namun menolak dipanggilkan ambulans atau minta tolong pada tetangga. Dia adalah pria yang penuh harga diri, namun juga berjuang menerima kenyataan hidup di masa tua. Ibu Chelsea terlalu tua dan lemah untuk membantu suaminya, tapi dia berhasil meyakinkan ayah Chelsea untuk mengijinkan kami membantu. Aku bilang kami akan datang dan membantunya, tapi Chelsea terlalu lemah untuk berkendara jauh-jauh. Aku tentu tidak mau membuat mereka kaget dengan membawa-bawa robot. Chelsea sempat memprotes keputusanku meninggalkannya bersama George, tapi aku akhirnya mendapat ide.

Aku akan mengajari George tentang moralitas!

Aku kemudian mendudukkan George di depan TV dan mengganti saluran ke acara khotbah agama dan paduan suara rohani. Dia pasti akan bisa belajar tentang perbedaan antara yang salah dan benar di acara-acara ini, dan Chelsea bisa beristirahat. Sebelum aku pergi, lagi-lagi Chelsea memilih mengurung diri di kamar. Kupikir konyol sekali dirinya karena takut pada benda seperti George.

Aku berjongkok di depan George dan berkata, "aku akan pergi selama beberapa jam. Kau duduk di sini dan tonton saluran ini, oke? Ini akan mengajarkanmu moralitas manusia. Kau ingin jadi manusia, 'kan?"

"Oh, jelas," ujar George.

Hari ke-9

Bagaimana mungkin aku begitu buta? Bagian yang berikut ini sangat sulit untuk ditulis, jadi kurasa aku akan mulai dengan menjelaskan apa yang telah dipahami George selama aku pergi.

Berjam-jam acara khotbah telah memenuhi otak George dengan ide-ide tentang jiwa, surga, neraka dan iblis. Pendeta berambut putih di layar kaca berkata bahwa hanya jiwa-jiwa yang baik yang bisa pergi ke surga. Yang lainnya pergi ke neraka, tempat yang sangat mengerikan. Walaupun George tak sepenuhnya mengerti apa itu surga dan neraka, dia jelas tak akan mau pergi ke tempat yang mengerikan. George ternyata mengingat hari insiden rakun tersebut, ketika aku menjelaskan padanya bahwa dirinya bukan makhluk hidup. Bahwa dia tak akan mati. Dan khotbah itu rupanya menekankan bahwa seseorang harus mati dulu sebelum pergi ke "tempat yang baik."

Jika George punya kesempatan untuk "hidup," yang berarti dia bisa mati dan punya kemungkinan pergi ke "tempat yang baik," dia membutuhkan jiwa.

Sang pendeta tersenyum, dan memberitahu George bahwa jiwa tercipta bersama dengan kelahiran seseorang. Jadi, George beranggapan bahwa jika dia menginginkan jiwa, dia harus dilahirkan.

Aku baru pulang sekitar pukul 4 pagi. Perjalanannya ternyata memakan waktu lebih lama dari yang kubayangkan. Ketika tiba, aku melihat rumah sangat gelap dan senyap; TV sudah dimatikan, dan George tak lagi duduk di sofa. Ketika berjalan melewati dapur, aku melihat pisau daging hilang dari tempatnya.

Pintu kamar tidur terbuka lebar. Aku mendorongnya dengan tangan gemetar, dan ketakutan terbesarku terpampang jelas di depanku.

Chelsea terbaring di atas ranjang, kedua lengannya terentang di sisinya, kakinya terlipat di bawah tubuhnya, matanya hampa dan mati. Selimut putihnya nampak merah oleh darah. George meringkuk di sampingnya, tubuh kerasnya yang dingin menempel ke tubuh Chelsea. Pisau daging berlumuran darah tergeletak di dekatnya.

Dia telah mengiris tubuh Chelsea dari dasar tulang dadanya sampai ke panggul, lalu menarik dagingnya hingga tubuhnya terbuka. Tangannya yang putih memerah, karena dia berusaha memaksa dirinya menyusup masuk ke tubuh Chelsea. Dia membuat ruang untuk dirinya sendiri di samping Matthew.

"A...apa...kau yang melakukan ini, George?" Aku terduduk di ambang pintu, menutup mulut saat menatap pemandangan mengerikan di depanku. Aku merasakan muntahan di tenggorokanku.

"Oh, jelas," sahut George.

"Ke...kenapa? Oh, Tuhan...."

George mengangkat wajahnya dan menatapku dengan mata birunya yang datar dan tak berkedip itu. "Aku sangat menginginkan sesuatu," katanya. "Aku membunuh untuk mendapatkannya."

Aku langsung muntah. Tubuhku gemetar. Aku ingin sekali berlari ke arah George dan memukulinya habis-habisan. Aku ingin meremukkan kepala putihnya. Aku ingin mengoyak sirkuit dan kabel-kabelnya. Tapi aku bahkan tidak sanggup berdiri.

"Kau...melakukan ini...untuk menjadi manusia?"

"Oh, jelas."

Kami memanggilnya George, karena dia penuh rasa ingin tahu.


Tamat


*Merujuk pada tokoh kartun dan buku anak-anak bernama Curious George.