Sabtu, 11 Juli 2015

Dagon



Judul asli: Dagon
Penulis: H. P. Lovecraft

Aku menulis ini dengan kalut, karena aku tahu malam ini aku akan mati. Aku tak punya uang dan hampir kehabisan obat-obatan yang membantuku tetap waras. Aku tak bisa menahan siksaan ini lagi. Akan kulempar diriku lewat jendela lantai teratas ini ke jalanan kumuh di bawah. Tapi, jangan pikir aku lemah karena aku kecanduan morfin. Kalau kau sudah membaca surat yang kutulis dengan tergesa-gesa ini, kau akan paham mengapa kematian adalah pilihanku.

Tempat itu adalah perairan terbuka yang jarang dilewati di Laut Pasifik, dan di sanalah kapal kargo kami dihadang kapal-kapal perang Jerman. Saat itu, perang besar baru saja dimulai, dan angkatan laut Inggris masih belum begitu terpuruk. Kapal kami dianggap sebagai sandera berharga, dan kami diperlakukan dengan cukup baik sebagai tahanan militer AL. Para penyandera kami bahkan bisa dibilang ceroboh dalam tugas mereka sehingga aku berhasil melarikan diri pada hari kelima, menggunakan perahu kecil lengkap dengan air dan perbekalan.

Setelah terapung-apung selama beberapa lama, aku baru sadar sadar bahwa aku tak tahu dimana aku berada. Aku bukan navigator yang baik, dan aku hanya bisa menebak dari posisi matahari dan bintang-bintang bahwa aku berada di selatan garis khatulistiwa. Tak ada satupun pulau atau garis pantai yang terlihat. Cuacanya cerah, dan aku hanya bisa menanti jika ada kapal lewat, sambil terpanggang matahari selama berhari-hari. Akan tetapi, tak ada satupun kapal yang lewat, dan aku mulai merasa putus asa karena sendirian di tengah-tengah laut biru yang luas itu.

Ketika aku tertidur, situasinya mulai berubah. Aku tak begitu ingat jelas apa yang terjadi, karena aku tak terbangun walaupun tidurku gelisah. Akan tetapi, ketika aku membuka mata, perahuku ternyata sudah setengah terbenam di permukaan semacam rawa-rawa hitam berlendir yang luas, yang permukaannya nampak bergelombang seperti berdenyut. Perahuku rupanya terdampar cukup jauh sehingga aku tak lagi melihat laut.

Kau mungkin menyangka aku akan takjub ketika melihat pemandangan mengejutkan seperti itu, namun sejujurnya, aku lebih merasa ngeri ketimbang takjub. Udara dan tanah berlumpur di tempat itu terasa jahat, membuatku merinding sampai ke tulang. Bau rawa-rawa itu luar biasa busuk karena bangkai-bangkai ikan yang bertebaran di atasnya, dan aku melihat tonjolan-tonjolan aneh yang tak kuketahui di bawah lapisan lumpurnya. Kata-kata tak bisa menjelaskan kengerian luar biasa yang memancar dari daerah hening dan tandus itu. Tak ada apapun yang terdengar atau terlihat kecuali rawa hitam luas berlendir, namun aku merasa mual karena rasa takut yang amat sangat. Matahari bersinar sangat terik, dan karena langit bersih tak berawan, sorot cahayanya hampir terlihat gelap di mataku, seolah mencerminkan lumpur hitam menjijikkan di bawah kakiku. 

Saat aku susah-payah berjalan setengah merangkak ke perahuku, aku memikirkan sebuah teori. Suatu aktifitas vulkanik mungkin mengangkat satu bagian dasar laut sampai ke permukaan, sehingga area yang tadinya sudah terbenam di kedalaman air selama berjuta-juta tahun kini terekspos. Area baru ini punya ketebalan yang luar biasa sampai-sampai aku tak bisa mendengar suara laut di bawahnya, sekeras apapun aku mencoba. Aku juga tidak melihat satupun burung laut di sekitar tempat ini. Aku akhirnya hanya bisa duduk selama berjam-jam di samping perahuku, yang terdampar dalam posisi sedikit miring sehingga memberiku tempat berteduh seadanya. Setelah beberapa jam berlalu, lumpur di bawah kakiku telah sedikit mengeras sehingga memungkinkan untuk berjalan dengan lebih mudah. Aku memutuskan untuk tidur dulu malam itu, sebelum membawa perbekalanku dan memulai perjalanan panjang untuk menemukan pantai serta kapal yang bisa menyelamatkanku.

Pada pagi hari ketiga, aku menemukan permukaan tanah kering yang benar-benar enak dibuat berjalan. Bau amis dan busuk di tempat itu luar biasa parah, namun benakku penuh dengan hal-hal yang lebih mendesak, sehingga aku tak menghiraukannya dan terus berjalan. Aku melangkah dengan gigih, disemangati oleh pemandangan sebuah bukit di kejauhan, yang puncaknya menjulang paling tinggi di permukaan tandus itu sejauh mataku bisa memandang. Aku berhenti untuk memasang tenda pada malam hari, dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya, walaupun bukit itu nampaknya tidak sedekat kelihatannya saat aku pertama kali melihatnya. Barulah pada petang hari keempat, aku tiba di kaki bukit itu, yang ternyata jauh lebih curam ketika dilihat dari jarak dekat. Aku terlalu lelah untuk mendakinya, jadi aku memutuskan untuk tidur dulu semalam di situ.

Mimpiku, anehnya, sangat liar malam itu, membuatku terlonjak bangun sambil berkeringat dingin bahkan sebelum bulan sempat meninggi di langit sebelah timur. Aku memutuskan untuk tidak tidur lagi. Aku tak ingin melihat lagi sesuatu seperti yang kulihat dalam mimpi barusan. Ketika mataku menyesuaikan diri dengan sekelilingku di bawah cahaya bulan, aku baru menyadari kebodohanku. Aku harusnya tidak berjalan di siang hari. Di malam hari, aku bisa menghemat lebih banyak tenaga karena aku tidak terpanggang matahari saat berjalan. Aku bahkan merasa mampu mendaki bukit tersebut saat itu juga. Aku pun mengambil ranselku dan melanjutkan perjalanan mendaki bukit.

Tadi kubilang area luas yang tandus itu membuatku ngeri, tapi aku merasakan kengerian yang lebih besar justru ketika aku mencapai puncak dan memandang ke lembah di seberang bukit, yang masih nampak gelap karena bulan belum naik cukup tinggi untuk menyinarinya. Rasanya seperti berada di tepian dunia, dimana yang terlihat hanya kegelapan tak berujung bagaikan malam yang abadi. Samar-samar, aku teringat puisi itu, Paradise Lost, dan membayangkan Iblis yang menyeberangi kegelapan purba.

Ketika aku menuruni lembah itu, aku menyadari bahwa lerengnya tidak securam yang kuduga. Ada banyak lekukan dan tonjolan batu yang memberiku pijakan saat turun. Baru setelah beberapa ratus meter, lereng lembah itu semakin bertambah curam, dan aku harus susah-payah merosot turun untuk mencapai daerah yang agak lebih datar, sambil terus memandang ke arah Styx* di bawah sana. Setelah aku turun, perhatianku langsung tercurah ke sebuah dataran tinggi yang menjulang beberapa ratus yard di atasku, dan sebuah benda asing besar di atasnya yang nampak putih berkilauan tersiram sinar bulan yang mulai meninggi.

Batu biasa, pikirku, mencoba menenangkan diri. Akan tetapi, walau hanya sekilas, aku bisa melihat bahwa bentuk dan lekukan batu itu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa benda tersebut terbentuk secara alami. Semakin aku memandang benda itu, perasaanku semakin bergejolak, karena walaupun berukuran besar dan nampak sudah ada di dasar laut sejak dunia masih muda, benda itu terlihat seperti sebuah monolit raksasa yang sengaja dibuat sebagai obyek penyembahan.

Diiringi rasa takut sekaligus ketakjuban ala arkeolog atau ilmuwan di depan penemuan baru, aku mengamati sekelilingku dengan seksama. Saat itu bulan sudah naik tinggi dan bersinar terang di atas puncak menara batu itu, menerangi bagian bawahnya yang ternyata sedikit terbenam di air yang entah berasal dari mana, dan permukaan air yang bergejolak itu nyaris membasahi kakiku. Aku kini bisa melihat permukaan monolit itu, yang dihiasi semacam ukiran huruf dan pahatan kasar. Huruf-hurufnya nampak seperti hieroglif asing yang tak kukenali dan belum pernah kulihat di buku manapun; bentuk-bentuknya mengacu pada makhluk-makhluk air seperti ikan, belut, gurita, hewan bercangkang, moluska, paus, dan sebagainya. Beberapa makhluk air yang kulihat di pahatan itu tak pernah kulihat di manapun, tapi kurasa aku mengenali bentuk-bentuknya dari beberapa bangkai asing yang pernah kulihat di rawa tandus pulau rawa itu sebelumnya.

Akan tetapi, dibandingkan ukiran huruf, pahatan gambar-gambarnyalah yang paling membuatku terpesona. Bentuk-bentuk besar dari sederet pahatan timbul, sangat menyolok dan pasti akan membuat Doré** merasa iri. Mereka nampak seperti manusia, atau setidaknya semacam makhluk mirip manusia. Mereka digambarkan bergerak mirip ikan-ikan yang berenang di laut dalam, serta memuja monolit-monolit batu di dalam air seperti yang kulihat saat ini. Aku tak bisa menggambarkan bentuk mereka secara rinci, karena mengingatnya saja sudah menakutkan, jauh melebihi imajinasi terliar Poe atau Bulwer.

Makhluk-makhluk itu nampak seperti manusia kecuali tangan dan kaki mereka yang bersirip, bibir lebar yang menggelambir, bola mata menonjol, dan sederet ciri-ciri fisik lain yang membuatku ngeri kalau membayangkannya. Anehnya, beberapa dari mereka nampaknya dipahat dengan ukuran yang tidak proporsional, karena salah satunya digambarkan sedang membunuh seekor paus, yang ukurannya hanya sedikit lebih besar darinya. Pada akhirnya, kuputuskan bahwa mereka pasti semacam dewa primitif yang disembah suku-suku penjelajah laut atau nelayan jaman dulu; suku-suku purba yang mungkin telah punah bahkan sebelum Manusia Neanderthal atau Piltdown hadir. Penemuan purba yang di luar dugaan ini melampaui bayangan terliar arkeolog manapun, sehingga aku hanya bisa berdiri terpana di bawah sinar bulan sambil memandangi pernukaan air di bawah kakiku.

Dan tiba-tiba, aku melihatnya.

Nyaris tanpa menimbulkan gejolak di permukaan air, makhluk itu muncul. Sangat besar dan mengerikan, monster itu melesat ke arah monolit bagai makhluk dari mimpi buruk, lantas meletakkan lengannya yang bersirip di atasnya. Makhluk itu menunduk dan mengeluarkan suara keras berirama, dan kurasa aku jadi gila saat itu.

Aku tak begitu ingat bagaimana persisnya aku mendaki lembah dan menuruni bukit serta berjalan setengah meracau ke perahuku. Aku ingat bernyanyi keras-keras, dan tertawa terbahak-bahak ketika sudah kehabisan lagu. Samar-samar, aku ingat badai yang menyambutku di tengah laut, serta suara halilintar sangat keras yang sambar-menyambar seolah alam sudah gila. Ketika aku sadar, aku sudah berada di sebuah rumah sakit di San Fransisco. Rupanya, seorang kapten kapal Amerika menemukan perahuku di tengah laut. Kurasa aku meracau dan mengocehkan macam-macam, tapi tak ada yang terlalu memerhatikan kata-kataku. Para penyelamatku juga tak tahu apa-apa soal dataran baru yang naik ke permukaan laut di Pasifik, sehingga aku juga tak mau repot-repot meyakinkan mereka tentang sesuatu yang mereka tak akan percaya. Setelah itu, aku pergi mengunjungi seorang arkeolog terkenal, dan menodongnya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh seputar Dagon, Dewa Ikan dari legenda kuno kaum Filistin. Akan tetapi, dalam hal ini pandangannya terlalu sempit, jadi aku aku tak ingin bertanya-tanya lagi.

Aku melihat makhluk itu nyaris setiap malam sekarang. Aku mencoba mengonsumsi morfin, tapi obat itu hanya memberi rasa lega sementara, dan akhirnya malah membuatku kecanduan. Jadi, aku akan mengakhirinya sekarang, setelah menyelesaikan surat pengakuan yang mungkin akan membuat geli teman-temanku ini. 

Kadang aku bertanya-tanya kalau apa yang kulihat saat itu hanya ilusi dari trauma dan demam yang kuderita saat terapung-apung di perahu setelah berhasil kabur dari tentara Jerman. Akan tetapi, setiap aku berpikir begitu, saat itu pula bayangan mengerikan itu kembali dengan sangat terperinci. Aku tak bisa lagi melihat laut tanpa berpikir bahwa, saat ini, makhluk-makhluk mengerikan itu sedang menyusuri dasar laut, memuja sesembahan mereka sambil mengukir pantulan memuakkan diri mereka sendiri di monolit batu yang terbenam. Aku terus memimpikan hari dimana mereka akan muncul dari laut, dan cakar-cakar mereka menyeret umat manusia yang ringkih karena perang ke dalam laut—hari dimana daratan akan tenggelam dan dasar laut naik ke permukaan, di tengah kekacauan dan kehancuran dunia.

Akhirku sudah dekat. Kudengar suara-suara di pintu, suara tubuh licin raksasa makhluk itu di baliknya. Tidak, dia tak akan menemukanku. Oh, Tuhanku, jendelanya! Jendela!

Tamat

*Styx: nama sungai yang membatasi alam fana dan alam baka dalam mitologi Yunani.

**Gustave Doré: nama pemahat dan pengukir asal Prancis (1832-1883)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar