Jumat, 22 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 4)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Silahkan ke sini.


Hutan Amazon, Brazil

(Mataku ditutup sepanjang perjalanan sehingga aku tak akan membocorkan lokasi tempat tinggal suku pribumi ini. Orang-orang menyebut mereka Yanomami, "Kaum Beringas," dan tak ada yang tahu apakah ini karena reputasi mereka sebagai suku yang ganas, atau fakta bahwa desa mereka dibangun tinggi di atas pepohonan sehingga mereka mampu melewati krisis wabah zombie secara lebih efektif dibandingkan kota-kota industri. Aku juga tidak tahu apakah Fernando Olivieira, pria kulit putih kurus bertampang pecandu "dari tepian dunia" itu adalah tamu, maskot, atau tahanan mereka).

"Aku masih seorang dokter," begitulah biasanya aku meyakinkan diriku dulu. Ya, aku memang kaya dan semakin bertambah kaya sebanyak yang kubisa, tapi kesuksesanku setidaknya datang dari praktik medis yang memang dibutuhkan. Aku tidak mengiris dan membentuk hidung mancung di wajah para remaja atau menjahit "pinto" orang-orang Sudan* ke tubuh para diva pop banci. Aku dokter yang menolong orang, dan jika apa yang kulakukan dianggap "tidak bermoral" oleh Amerika dan Eropa yang sok suci, kenapa banyak dari mereka yang menjadi pasienku?

Paket itu tiba dari bandara satu jam sebelum pasienku datang, diletakkan di atas es dalam kotak plastik. Jantung adalah organ yang sulit didapatkan, tidak seperti hati, jaringan kulit, dan ginjal yang bisa diperoleh dari rumah sakit atau kamar mayat dimana saja di negara ini setelah semua ijinnya "diurus."

Apakah kau mengetesnya?

Untuk apa? Jika kau mau melakukan tes, kau harus tahu apa yang hendak kau temukan. Kami tidak tahu apa-apa tentang wabah zombie sebelumnya. Kami lebih memikirkan soal hepatitis, HIV/AIDS, dan kami bahkan tidak sempat melakukan tes untuk penyakit-penyakit itu.

Kenapa?

Karena penerbangannya sangat panjang. Organ tubuh tak bisa disimpan dalam es selamanya. Kami sudah habis-habisan untuk yang satu itu.

Dari mana jantung itu datang?

Cina. Perantaraku beroperasi di Makau. Kami percaya padanya karena rekam jejaknya bagus. Ketika ia bilang bahwa paketnya bersih, aku percaya saja. Dia tahu resikonya, aku tahu resikonya, dan pasien-pasienku juga. 

Sebagai tambahan atas penyakit jantungnya, Tuan Muller juga didiagnosis menderita kelainan genetis langka: dekstrokardia dengan situs inversus. Organ-organ tubuh dalamnya terletak di posisi yang salah; hatinya di sebelah kiri, nadi jantung di sebelah kanan, dan seterusnya. Kau paham situasi yang kami hadapi? Kami tidak bisa sekedar memasang jantung baru dan memutarnya; bukan begitu caranya. Kami harus segera memesan jantung segar dari "donor" yang memiliki kondisi sama. Dimana lagi kami bisa menemukannya selain di Cina?

Jadi, itu keberuntungan?

Ya, dan sedikit "kelonggaran politis." Aku hanya bilang pada perantaraku apa yang kubutuhkan, termasuk semua informasi spesifiknya. Tiga minggu kemudian, aku menerima e-mail berjudul: "Ada yang cocok."

Jadi, kau melakukan operasi itu.

Aku hanya membantu; Dokter Silva yang melakukan prosedurnya. Dia ahli bedah jantung andal yang menangani kasus-kasus sulit di Hospital Israelita Albert Einstein di São Paulo. Bajingan sombong, dia itu, bahkan untuk ukuran ahli bedah jantung. Aku harus mati-matian menekan ego ketika bekerja bersamanya...bangsat itu memperlakukanku seolah aku masih calon dokter. Tapi bisa apa lagi aku? Tuan Muller butuh jantung baru, dan rumah pantaiku butuh Jacuzzi baru.

Ternyata Tuan Muller tak pernah sadar dari pengaruh anestesi. Hanya beberapa menit setelah kami selesai, ia mulai menunjukkan gejala-gejala aneh. Temperatur, denyut nadi, pernapasan, semua kacau. Aku jadi cemas, tapi aku yakin kolegaku yang terhormat itu pasti lebih senewen. Ia gelagapan memberitahuku bahwa itu mungkin reaksi umum dari obat-obatan imunosupresan, atau komplikasi yang bisa terjadi pada pasien usia enam puluh tujuh tahun yang kelebihan berat badan. Aku setengah menyangka bangsat sombong itu akan menepuk-nepuk kepalaku ketika ia menyuruhku pulang, mandi air hangat, mungkin memesan satu atau dua gadis panggilan, tidur, pokoknya santai. Dia akan menunggu di klinik dan meneleponku jika ada perubahan.

(Olivieira menggigit bibir dengan marah dan mengunyah lagi sejumput daun-daunan asing di sampingnya).

Aku tak bisa bilang apa-apa lagi. Ya, mungkin saja itu karena obatnya, OKT 3. Atau mungkin aku yang terlalu khawatir. Lagipula, itu operasi transplantasi jantung pertamaku. Memangnya aku tahu apa? Tapi perasaanku tetap saja tak enak, jadi aku melakukan apa yang dilakukan para dokter baik-baik ketika pasien mereka sedang menderita; aku pergi ke kota, berdisko, mabuk-mabukan, bercinta dengan entah siapa dan berapa orang. Aku bahkan tidak sadar ketika ponselku berdering. Mungkin baru empat jam kemudian ketika aku akhirnya menjawab dering ponsel. Resepsionisku, Graziela, kedengaran sangat panik. Dia bilang, Tuan Muller sudah satu jam mengalami koma. Aku sudah berada di mobilku bahkan sebelum dia selesai bicara. Perjalanan kembali ke klinik memakan waktu tiga puluh menit, dan aku mengutuki Silva serta diriku sendiri sepanjang perjalanan. Jadi firasatku memang benar! Memang ada yang harus dikhawatirkan! Tapi, meskipun aku sadar bahwa hal ini akan berakibat buruk untukku, diam-diam aku juga merasa senang ketika menyadari bahwa reputasi Dokter Silva akhirnya tercoreng.

Ketika aku tiba, Graziela sedang sibuk menenangkan Rosi, seorang perawat muda. Gadis malang itu sangat histeris. Aku menamparnya satu kali, lalu mencecarnya dengan pertanyaan. Kenapa ada bekas darah di seragamnya? Mana Dokter Silva? Kenapa pasien-pasien ini ada di luar ruangan? Suara gedoran apa itu di dalam sana? Perawat itu bilang Tuan Muller mendadak kehilangan tanda-tanda vitalnya. Ketika mereka mencoba menyadarkannya lagi, ia mendadak membuka matanya dan menggigit tangan Dokter Silva. Keduanya bergulat. Rosi berusaha memisahkan mereka, namun ia pun nyaris digigit. Karena ketakutan, ia lari keluar dan mengunci pintunya.

Aku nyaris tertawa mendengarnya. Konyol sekali! Mungkin si Dokter Superman salah diagnosa. Mungkin Tuan Muller hanya merasa linglung setelah terbangun, dan karenanya langsung mencengkeram tangan Silva, bukan menggigitnya. Tapi...pandanganku terarah ke darah di seragam Rosa, dan suara-suara gaduh dari kamar Tuan Muller masih saja terdengar. Aku bergegas ke mobilku untuk mengambil pistolku, lebih untuk menenangkan Graziela dan Rosi daripada diriku.

Kau membawa pistol?

Hei, aku tinggal di Rio. Kau pikir apa yang kubawa, pinto-ku? Pokoknya, aku berlari ke kamar Tuan Muller, dan kuketuk pintunya beberapa kali. Tak ada yang menjawab, tapi aku melihat genangan darah merembes dari bawah pintu. Ketika aku masuk, lantai benar-benar tergenang oleh darah. Silva tergeletak di pojok ruangan, dan Tuan Muller membungkuk di atasnya, punggungnya yang pucat dan berbulu menghadap ke arahku. Aku tidak tahu apakah aku memanggil namanya atau mengumpat, yang jelas, dia tiba-tiba menoleh ke arahku, potongan-potongan daging berjatuhan dari mulutnya. Kulihat jahitannya sudah terbuka, dan ada cairan kental kehitaman keluar dari irisan bekas operasinya. Dia berdiri, dan perlahan berjalan ke arahku.

Kuangkat pistolku dan kuarahkan ke jantung Tuan Muller, jantung barunya itu. Pistolku "Desert Eagle," buatan Israel, bentuknya besar dan menyolok; alasan utama kenapa aku memilihnya, walau aku belum pernah menembak seseorang sampai saat itu. Aku tidak siap dengan hantaman baliknya, sehingga bidikanku mengarah ke kepalanya. Untungnya, dia langsung terjatuh, dan aku hanya bisa berdiri gemetaran sambil mengompol. Graziela yang kemudian gantian menamparku beberapa kali, sampai akhirnya aku sadar dan segera menelepon polisi.

Apakah kau ditahan?

Kau gila? Tentu saja tidak. Polisi adalah rekananku; mereka yang membantuku mendapatkan organ-organ tubuh segar, dan membereskan semua kekacauan itu. Mereka pintar sekali; membantu menjelaskan pada para pasien bahwa ada pembunuh gila yang menerobos ke klinik dan membunuh Tuan Muller serta Dokter Silva. Mereka juga memastikan para staf tutup mulut.

Bagaimana dengan mayat-mayatnya?

Mereka melaporkan Silva sebagai korban "pembajakan mobil." Aku tidak tahu dimana mereka membuang mayatnya; mungkin di salah satu daerah kumuh, dibumbui cerita-cerita yang biasa tentang transaksi narkoba yang gagal atau semacamnya. Kuharap mereka membakar mayatnya, atau menguburnya dalam-dalam.

Apakah kau pikir dia hidup lagi?

Aku tidak tahu. Kupikir otaknya masih utuh waktu dia mati. Kalau tubuhnya tidak dibungkus dalam kantung mayat...kalau tanahnya cukup lembek...berapa lama yang diperlukan sampai dia bisa menggali keluar?

(Olivieira mengunyah sejumput daun lagi. Ia menawariku, namun kutolak).

Bagaimana dengan Tuan Muller?

Tak ada penjelasan. Tidak untuk jandanya ataupun Kedutaan Austria. Mereka hanya melaporkannya sebagai satu dari turis-turis sial yang hilang diculik. Aku tidak tahu apakah Nyonya Muller percaya atau tidak, tapi aku hanya bisa bilang kalau dia beruntung sekali.

Apa maksudmu "beruntung?"

Apa maksudmu? Coba pikir, bagaimana kalau dia tidak keburu berubah menjadi zombie? Bagaimana kalau dia sempat pulang ke rumahnya?

Apa itu mungkin?

Tentu saja! Coba kau pikir; infeksinya menyebar dari jantung barunya. Virus apapun yang menyerangnya jadi punya akses ke sistem sirkulasinya, dan menyerang otaknya hanya dalam beberapa detik setelah transplantasi. Bandingkan dengan organ-organ lain seperti hati, ginjal atau kulit, pasti butuh waktu lebih lama.

Tapi donornya....

Donornya tidak harus berubah menjadi zombie dulu! Mungkin si donor baru terinfeksi sehingga organnya tidak keburu rusak. Kalau kau taruh organ itu di tubuh baru, mungkin masih perlu waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu sebelum virusnya mencapai aliran darah. Sampai saat itu tiba, si pasien mungkin sudah hampir sembuh, merasa sehat, dan hidup senang tanpa tahu apa-apa.

Jadi, siapapun yang memindahkan organnya dari tubuh donor...

...kemungkinan tidak tahu apa-apa soal apa yang dihadapinya. Aku juga tidak. Saat itu baru permulaan, ketika orang-orang masih tidak tahu apa-apa. Bahkan sekalipun mereka tahu sesuatu, seperti beberapa orang di militer Cina.... Kau tahu, mereka sudah mengambil banyak keuntungan dari menjual organ-organ tubuh narapidana yang dieksekusi selama bertahun-tahun. Pikirmu masalah penyebaran virus akan membuat mereka berhenti menyedot semua sumber uang itu?

Tapi bagaimana bisa?

Itu bisa terjadi jika kau memindahkan organ dari donor yang baru meninggal, atau bahkan ketika ia masih hidup. Mereka biasa melakukan itu, untuk menjaga kesegaran organ tubuh. Kemas dalam es, masukkan ke pesawat, kirim ke Rio. Cina dulu merupakan eksportir organ tubuh manusia terbesar di dunia. Siapa yang tahu berapa banyak organ terinfeksi di luar sana? Itu baru organ tubuh. Kita belum bicara tentang sel telur, darah dan sperma "sumbangan" dari para tahanan politik. Pikirmu imigrasi adalah satu-satunya penyebab penyebaran wabah zombie? Tidak semua yang terinfeksi pertama kali adalah warga negara Cina. Bisakah kau menjelaskan laporan kasus-kasus orang-orang yang mati mendadak, lalu berubah menjadi zombie padahal mereka tidak digigit? Mengapa banyak kasus penyebaran wabah berawal dari rumah sakit? Imigran ilegal miskin dari Cina tidak pergi ke rumah sakit, tahu. Berapa ribu orang yang mendapat organ-organ tubuh dari Cina di masa-masa awal penyebaran wabah? Biarpun hanya satu persen, satu persen saja dari mereka yang terinfeksi....

Apakah kau punya bukti untuk teori ini?

Tidak, tapi bukan berarti hal-hal itu tidak terjadi. Kalau aku mengingat-ingat semua operasi transplantasi yang pernah kulakukan...semua pasien dari Eropa, Timur Tengah, bahkan Amerika Serikat sok suci.... Kalian di Amerika mungkin tak pernah bertanya-tanya darimana ginjal atau pankreas baru kalian datang, apakah dari seorang bocah gelandangan di Rio, atau tahanan politik yang dihukum mati. Kalian tidak tahu dan tidak peduli. Yang kalian pikirkan hanya menandatangani cek perjalanan, dioperasi, dan pulang ke Miami atau New York atau apalah.

Apakah kau pernah mencoba melacak pasien-pasien ini untuk memperingatkan mereka?

Tidak. Aku lebih sibuk memulihkan diri dari skandal, berusaha membangun kembali reputasiku, jaringan pasienku, dan rekening bankku. Aku hanya ingin melupakan semuanya, jadi aku tak pernah menyelidiki lebih lanjut. Ketika aku menyadari bahaya yang sesungguhnya, sudah terlambat.

Baca bagian selanjutnya di sini.


*Organ-organ seksual pria Sudan yang dipotong karena tuduhan melakukan hubungan seks di luar nikah kerap diduga dijual di pasar gelap sebagai jimat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar